Malang — Aktivis Peneleh Jang Oetama kembali mengadakan acara Bincang Santai sesi ketiga dengan tema “Sosial Ekologis: Mendesain Masa Depan Bumi & Peradaban yang Arif”. Acara ini menghadirkan dua pembicara inspiratif, Anggun Nugroho dan Kurnia Ahmad Sabili, yang dikenal sebagai aktivis sekaligus pemikir muda yang peduli terhadap isu sosial-ekologi.
Acara yang berlangsung secara hybrid ini digelar untuk mempertemukan gagasan dan lintas diskusi disiplin ilmu tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara pembangunan peradaban manusia dan kelestarian lingkungan hidup.
Dalam sesi ini, Anggun Nugroho menyoroti pentingnya kesadaran kolektif terhadap krisis ekologi yang dihadapi dunia saat ini. Ia menyatakan bahwa “Krisis ekologis tidak hanya berbicara soal lingkungan, tetapi juga soal bagaimana manusia mendidik peradaban yang menghormati alam sebagai bagian dari kehidupannya.”
Kurnia Ahmad Sabili melengkapi pembahasan tersebut dengan memaparkan pendekatan berbasis nilai budaya lokal dan agama. Ia menekankan, “Dalam Islam, manusia adalah khalifah di muka bumi yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Tugas ini tidak hanya bersifat individu tetapi juga kolektif sebagai bagian dari masyarakat.”
Diskusi Interaktif dan Solusi Praktis
Sesi ini juga diperkaya dengan diskusi interaktif bersama peserta yang terdiri dari pelajar, pengajar, dan masyarakat umum. Para peserta diajak untuk menggali lebih dalam bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai agama dan budaya lokal dalam setiap aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan.
Beberapa solusi yang muncul dari diskusi ini meliputi:
- Mendorong komunitas untuk menerapkan pertanian berkelanjutan.
- Memanfaatkan teknologi ramah lingkungan untuk aktivitas sehari-hari.
- Membangun kesadaran melalui edukasi lintas generasi tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Penutup dan Harapan
Acara ditutup dengan pernyataan bersama bahwa menjaga bumi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aktivis, tetapi juga tanggung jawab setiap individu. Para pembicara dan peserta sepakat untuk terus memperjuangkan keharmonisan antara manusia dan alam dalam segala aspek kehidupan.
Dengan semangat kolaborasi ini, Bincang Santai sesi ketiga menjadi momentum penting untuk menyadarkan masyarakat bahwa masa depan peradaban yang arif hanya dapat tercapai dengan menghormati dan melestarikan lingkungan sebagai warisan yang harus dijaga bersama.


Tinggalkan komentar