Aktivis Peneleh, Gerakan Indealisme Pemuda Berhaluan Tjokroisme

Oleh: Hendra Jaya

Opini – Realitas pemuda Indonesia yang semakin pragmatis dan materialis hari ini menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa. Di tengah krisis multidimensi yang melanda negeri ini—dari ekonomi hingga moralitas—pemuda justru semakin sibuk dengan kepentingan pribadi dan kelompok, yang pada akhirnya hanya bertujuan meraih kuasa. Orientasi ini mencerminkan keterputusan antara idealisme dan realitas sosial, di mana mayoritas pemuda lebih memikirkan nasib diri sendiri dibandingkan tanggung jawab kolektif terhadap umat dan bangsa.

Ironisnya, banyak gerakan kepemudaan hari ini tidak lahir dari kesadaran kritis, melainkan dari dorongan kekuasaan yang berbasis materialisme. Akibatnya, gerakan-gerakan tersebut sering kali berujung pada ekstremisme—baik dalam bentuk radikalisme yang mengatasnamakan agama maupun rasisme yang membahayakan persatuan nasional. Fenomena ini menunjukkan betapa mudahnya pemuda hari ini dimanipulasi oleh kepentingan politik dan ekonomi, alih-alih berjuang atas dasar kesadaran kebangsaan dan keumatan yang sejati.

Kesadaran akan bahaya pragmatisme sempit inilah yang melandasi lahirnya Yayasan Peneleh Jang Oetama. Para pendirinya berkomitmen untuk menyadarkan pemuda bahwa pendidikan berbasis agama dan budaya bukan sekadar retorika, melainkan strategi konkret dalam membangun generasi yang memiliki gagasan konstruktif bagi negeri. NKRI harus dijaga, dimuliakan, dan dijayakan, bukan sekadar dijadikan alat tawar-menawar politik.

Sejak 2015, Gerakan Aktivis Peneleh telah berhasil mengader ribuan pemuda di berbagai wilayah Indonesia (Medan, Padang, Lampung, Jakarta, Bandung, Tangerang, Bekasi, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Salatiga, Kudus, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Kediri, Jombang, Bangkalan, Sumenep, Denpasar, Mataram, Bima, Sumbawa, Kupang, Palu, Makassar, Banjarmasin, dan lainnya). Pengaderan ini bertujuan mencetak insan-insan kamil yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan yang utuh. Mereka tidak sekadar berbicara tentang perubahan, tetapi benar-benar menjadi agen transformasi sosial menuju peradaban utama.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Aktivis Peneleh menempuh beberapa jalur pengaderan:

  1. Pendidikan Dasar Aktivis Nasional (DIKSARNAS)
  2. Pendidikan Dasar Menengah Nasional (DIKMENAS)
  3. Pendidikan Tinggi Nasional (DIKTANAS)
  4. Program Relawan Riset Peneleh
  5. Peneleh Youth Volunteer Camp
  6. Gerakan Aktivis Peneleh Muda (Tjokro Muda)
  7. Sekolah Regional Aktivis Peneleh

Sebagai sebuah gerakan, Aktivis Peneleh menghidupkan kembali gagasan zelfbestuur yang disuarakan HOS Tjokroaminoto pada tahun 1916. Prinsip kemandirian ini tidak sekadar menjadi slogan, tetapi diwujudkan melalui berbagai organ yang menjaga idealismenya, seperti Peneleh Research Institute, Penerbit Peneleh, dan Waroeng Jang Oetama.

Namun, kaderisasi tanpa praksis hanya akan menjadi retorika kosong. Oleh karena itu, Aktivis Peneleh menegaskan bahwa akar pendidikan adalah agama dan budaya, yang harus diterjemahkan ke dalam aksi nyata. Saat ini, gerakan sedang membangun Masjid Kampus dan Pusat Pembelajaran Gratis di Sumbawa dan Lombok, Nusa Tenggara Barat, melalui skema wakaf sebagai bentuk nyata kontribusi bagi umat dan bangsa. Ini bukan sekadar proyek fisik, tetapi simbol perlawanan terhadap pragmatisme dan materialisme yang telah mencengkeram pemuda Indonesia.

Tantangan bagi generasi muda hari ini adalah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar produk zaman yang terjebak dalam pusaran kepentingan pragmatis. Mereka harus mampu berpikir dan bertindak dengan visi jangka panjang, meninggalkan jejak peradaban yang bermakna, dan tidak sekadar menjadi alat bagi oligarki atau kekuatan asing. Jika tidak, pemuda Indonesia hanya akan menjadi generasi yang sekadar hidup untuk hari ini, tanpa jejak untuk masa depan.

Satu tanggapan untuk “Aktivis Peneleh, Gerakan Indealisme Pemuda Berhaluan Tjokroisme”

  1. Gerakan Aktivis Peneleh menawarkan solusi atas krisis pragmatisme dan materialisme yang melanda pemuda Indonesia saat ini. Dengan menanamkan nilai agama dan budaya sebagai dasar pendidikan, mereka berupaya menciptakan generasi yang tidak hanya berpikir untuk kepentingan pribadi, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan dan keumatan yang kuat. Di tengah maraknya manipulasi politik dan ekstremisme, pendekatan ini menjadi harapan bagi lahirnya pemuda yang benar-benar berjuang untuk perubahan sosial yang bermakna. Tantangannya adalah bagaimana memastikan gerakan ini tetap konsisten dan tidak tergerus oleh arus kepentingan pragmatis yang mereka kritik.

    Suka

Tinggalkan komentar