Aktivis Peneleh Jang Oetama (APJO) Regional Makassar menggelar acara bincang buku Kita Bukan Bebek! dan Kebudayaan Nusantara pada Minggu, 19 Januari 2025, pukul 19.00 WITA hingga selesai. Kegiatan ini berlangsung di Ngopi di Kampus, Jl. Pacciang Raya Tello, Kota Makassar.
Bincang buku ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Fachrizal Ubbe, Koordinator Aktivis Peneleh Makassar sebagai pembedah pertama, Supratman Yusbi Yusuf, Direktur Penerbit Subaltern sebagai pembedah kedua, dan Muh. Fadhir, A.I.L., Penulis buku Kita Bukan Bebek! sekaligus Koordinator Nasional Aktivis Peneleh Jang Oetama. Diskusi ini dimoderatori oleh Suryaningsih, salah satu Abdi Peneleh Makassar, dan dihadiri oleh puluhan pemuda/mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Makassar.
Membahas Peran Pemuda dalam Konteks Kebangsaan
Fachrizal Ubbe membuka diskusi dengan menekankan bahwa buku Kita Bukan Bebek! merupakan refleksi kritis penulis selama sembilan tahun terlibat dalam berbagai gerakan pemuda. Ia menyoroti tiga konsep utama yang menjadi fokus dalam buku tersebut, yaitu nilai religiusitas, nilai kebudayaan, dan nilai kebangsaan.
“Nilai religiusitas memberikan landasan moral, nilai kebudayaan mengingatkan kita pada jati diri bangsa, dan nilai kebangsaan mendorong kita untuk berkontribusi bagi negeri. Pemuda harus memahami dan mengamalkan ketiga nilai ini agar mampu menghadapi tantangan global,” jelas Fachrizal.
Menurutnya, generasi muda saat ini menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan identitas mereka di tengah pengaruh globalisasi dan modernisasi yang pesat. Oleh karena itu, pemuda harus memiliki pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai fundamental tersebut agar tidak mudah terombang-ambing oleh arus perubahan zaman.
Fenomena Alienasi Pemuda dari Jati Diri Bangsa
Supratman Yusbi Yusuf sebagai pembedah kedua menyoroti fenomena alienasi atau keterasingan pemuda dari jati dirinya sendiri. Salah satu penyebab utama fenomena ini, menurutnya, adalah konsumsi budaya populer yang berlebihan, terutama budaya Korea yang semakin mendominasi pola pikir dan gaya hidup pemuda Indonesia.
“Pemuda kita terlalu dominan mengonsumsi film-film Korea. Akibatnya, pikiran mereka terkontruksi dan cenderung mengikuti seluruh gaya hidup ala Korea. Hal ini membuat mereka semakin jauh dari identitas asli mereka sebagai anak bangsa,” jelas Supratman.
Ia juga menekankan pentingnya bagi pemuda Makassar untuk kembali mempelajari dan memahami konsep hidup manusia Bugis. Nilai-nilai luhur dalam budaya Bugis, seperti keberanian, kejujuran, dan penghormatan terhadap leluhur, harus dijadikan pedoman hidup untuk menjaga substansi identitas lokal di tengah arus globalisasi.
“Pemuda Makassar harus mengenal dan menerapkan konsep-konsep hidup manusia Bugis agar mereka tidak kehilangan jati diri di tengah derasnya pengaruh budaya asing,” tambahnya.
Membangun Kesadaran Pemuda untuk Mengambil Peran dalam Bangsa
Sebagai penulis buku Kita Bukan Bebek!, Muh. Fadhir menekankan bahwa pemuda Indonesia harus menyadari dirinya sebagai bagian dari bangsa yang besar serta mengambil peran aktif dalam upaya membangun kemerdekaan sejati Indonesia.
“Pemuda tidak boleh hanya menjadi pengikut, tetapi harus menjadi penggerak. Kesadaran akan jati diri sebagai anak bangsa adalah kunci untuk menciptakan perubahan,” ujar Fadhir.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya menjaga warisan kebudayaan Nusantara sebagai identitas bangsa. Ia mengingatkan bahwa kebudayaan Indonesia yang kaya dan beragam adalah harta yang harus dilestarikan oleh generasi muda.
“Kebudayaan Nusantara adalah cerminan dari perjalanan panjang bangsa kita. Melestarikan dan memperkenalkannya ke dunia adalah tanggung jawab bersama, terutama bagi generasi muda yang menjadi harapan masa depan,” tambahnya.
Diskusi ini mendapatkan respons positif dari para peserta. Banyak dari mereka merasa terinspirasi untuk lebih mengenal identitas budaya mereka dan berkontribusi aktif bagi bangsa Indonesia. Beberapa peserta juga berbagi pengalaman tentang bagaimana budaya populer telah memengaruhi pola pikir mereka, serta bagaimana mereka berusaha untuk tetap mempertahankan nilai-nilai budaya lokal dalam kehidupan sehari-hari.
Meneguhkan Tradisi Diskusi dan Bedah Buku
Di penghujung acara, Fadhir menekankan perlunya tradisi bedah buku dan diskusi santai seperti ini dilakukan secara rutin oleh organisasi kepemudaan di Kota Makassar. Ia berharap bahwa semakin banyak pemuda yang terlibat dalam diskusi intelektual seperti ini agar wawasan mereka semakin luas dan kesadaran akan jati diri bangsa semakin kuat.
Acara bincang buku ini pun ditutup dengan semangat dan harapan bahwa pemuda Indonesia, khususnya di Makassar, dapat terus berkembang, berkontribusi, dan tetap menjaga identitas serta nilai-nilai kebudayaan mereka di tengah derasnya arus globalisasi.






Tinggalkan komentar