Diskusi “Inisiasi Kiri Nusantara” Digelar di Makassar, Aktivis Peneleh Kembali Konsolidasi

Makassar, 21 Januari 2025 – Dalam sebuah acara diskusi bertajuk “Inisiasi Kiri Nusantara” yang digelar di Kota Makassar, Muh. Fadhir A.I. Lamase, Koordinator Nasional Aktivis Peneleh memantik diskusi dengan pendekatan yang sederhana namun membangkitkan kesadaran para peserta. Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian pra-Kongres II Aktivis Peneleh Nasional yang akan digelar bulan Februari mendatang.

Acara yang berlangsung pada Selasa, 21 Januari 2025, di Ngopi di Kampus, Makassar, ini dihadiri oleh Aktivis Peneleh, Relawan Riset, dan Abdi Peneleh. Dalam forum tersebut, Fadhir menyoroti pentingnya pengaruh pikiran dan batin dalam menentukan sikap serta tindakan seseorang.

“Hasil olah pikiran dan batin kita akan menentukan sikap bahkan tindakan. Misalnya, saat teman-teman sejak kecil banyak mengonsumsi film Korea, maka konsep manusia idealnya seperti para opa-opa dan nonna-nonna. Sedangkan jika kalian mengonsumsi budaya wayang atau kebudayaan Nusantara, maka wujud manusia Indonesia/Nusantara akan lebih melekat,” ujar Fadhir.

Pernyataan ini mendapatkan respons antusias dari peserta. Fadhir mengajak mereka untuk merenungkan kebiasaan sehari-hari, termasuk dalam memilih konsumsi informasi dan media sosial. Menurutnya, perubahan besar dapat dimulai dari kesadaran akan pentingnya menjaga pikiran dan batin yang bersandar pada konsep nilai Ke-Nusantaraan.

Resonansi Pemikiran Nusantara dalam Diskusi

Dalam diskusi tersebut, beberapa peserta memberikan pandangan kritis terkait tema yang diangkat. Yusran, salah satu peserta, membandingkan konsep pembangunan peradaban yang dibahas dalam diskusi dengan pemikiran John Rawls dalam bukunya “Teori tentang Keadilan”.

“Rawls menekankan pentingnya bargaining position masyarakat dalam pembangunan bangsa untuk memastikan keadilan dan keberlanjutan. Konsep ini juga pernah diterapkan oleh Sultan Hasanuddin, pahlawan dari Bumi Daeng, yang memprioritaskan keberdayaan masyarakat dalam menghadapi tantangan kolonial,” jelas Yusran.

Sementara itu, Indriani (Abdi Peneleh) menambahkan bahwa Inisiasi Kiri Nusantara bisa membangkitkan kembali peradaban Nusantara yang berbasis religiusitas dan kebudayaan asli Nusantara.

“Saat ini, Nusantara mengalami pengaruh kebudayaan luar yang menyebabkan lahirnya liberalisme berjiwa AMOR (Agnostik, Materialistik, Oportunistik, dan Rasionalistik). Salah satu yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah pendidikan, sebab pendidikan bisa menanamkan kebudayaan asli Nusantara kita,” ujar Indriani.

Menurutnya, melawan arus globalisasi yang mengikis nilai-nilai Nusantara dapat dilakukan dengan kembali ke jati diri bangsa:

“Tidak meniru atau mengikuti apa yang dilakukan orang lain, tidak mempercayai sesuatu yang bukan sebenarnya, dan tidak berkesadaran AMOR.”

Pemaparan ini ditambahkan oleh Fachrizal Ubbe, Koordinator APJO Regional Makassar, yang menekankan pentingnya mengembalikan sandaran pengetahuan yang telah diletakkan oleh leluhur Nusantara.

“Tanah air kita memiliki kultur khas dalam suku, rasa, dan budaya. Maka, nilai pengetahuan yang berstandar dalam kebenaran harus meliputi Rasional, Intuisi, Iman, dan Empiris. Gerakan Inisiasi Kiri Nusantara harus hadir di ruang Pendidikan, Kebudayaan, Kesejahteraan Ekonomi, dan Syuro Politik. Lewat konsolidasi, kita dapat menyatukan pikiran dan batin untuk menghasilkan tindakan berjamaah dalam menjadikan Nusantara sebagai peradaban yang maju,” tegas Fachrizal.

Sementara itu, Wa Ode Rayyani, Pembina Aktivis Peneleh Makassar, menekankan pentingnya menghidupkan konsep perlawanan berbasis nilai-nilai Nusantara di berbagai wilayah Indonesia.

“Konsep perlawanan Nusantara harus digaungkan di seluruh daerah di Indonesia, khususnya di kalangan pemuda. Dengan begitu, mereka mampu membangun konstruksi gerakan perubahan yang bernafaskan nilai-nilai Nusantara,” ujar Rayyani.

Menuju Konsolidasi Nasional di Kongres II Aktivis Peneleh

Diskusi ini menjadi ruang refleksi bagi para peserta untuk memahami lebih dalam sejarah dan nilai-nilai Nusantarayang masih relevan dengan tantangan pembangunan modern. Aktivis Peneleh berharap bahwa melalui forum seperti ini, akan lahir ide-ide strategis yang akan dibahas lebih lanjut dalam Kongres II Aktivis Peneleh Nasional pada bulan Februari mendatang.

Tinggalkan komentar