Gaung Tjokroisme di Menggema di Tanah Lombok

23 Januari 2025 – Teater Terbuka Taman Budaya Provinis NTB menjadi saksi bisu atas gaung Tjokroisme. Perhelatan diskusi sore tentang sejarah, pemikiran, dan gerakan HOS Tjokroaminoto, berjalan secara hikmat oleh Aktivis Peneleh Regional Lombok. Berbagai aktivis dari penjuru Lombok hadir untuk berdiskusi tentang Guru Bangsa satu ini.

Serial diskusi tentang HOS Tjokroaminoto memang tidak ada habisnya. Karena sebagai Bapak Gerakan Nasional Pertama Indonesia, banyak gagasan serta contoh gerakannya relevan untuk dikontekstualisasikan pada fenomena sosial-gerakan hari ini. Terlebih, perihal Tjokroisme, banyak aktivis mulai penasaran dengan konsep dan implementasi Tjokroisme.

“Pertanyaan saya singkat saja, mengapa harus Tjokroisme?” Tanya salah satu peserta dalam diskusi ini.

Pertanyaan tersebut pun merupakan salah satu dari sekian pertanyaan dan pendapat yang diutarakan para audiens dalam forum ini. Karena pada diskusi ini fokus pembahasan adalah tentang HOS Tjokroaminoto. Narasumber kali ini, Ahmad Tsiqqif ‘Asyiqulloh, selaku Sekretaris Jenderal Aktivis Peneleh, memantik diskusi dengan judul Trisula Raja Tanpa Mahkota. Pembahasan dimulai dengan melihat realitas eksisting dalam skala nasional hingga internasional. Kemudian mengerucut pada linimasa juang HOS Tjokroaminoto beserta ketajaman trisula pemikirannya. Di akhir, disimpulkan dalam konsep Tjokroisme sebagai pemikiran dan keyakinan yang patut orang-orang Indonesia mengamininya. 

Baca Juga: Aktivis Peneleh Regional Lombok Satukan Gelombang Baru Gerakan

“Ibarat seorang raja, seringnya memiliki pusakanya tersendiri. Begitu pun sang Raja Tanpa Mahkota, memiliki pusaka ‘Trisula’ yang tajam menghunus realitas. Semurni-murni Tauhid, Setinggi-tinggi Ilmu, Sepintar-pintar Siasah.” Terang Ahmad Tsiqqif ‘Asyiqulloh dalam pemaparan materinya. “Karena Tjokroisme lahir dan relevan implementasinya di Nusantara. Dari pemikiran tokoh Nusantara. Sudah dicontohkan langsung praktek gerakannya di Nusantara. Membawa nilai-nilai ke-Nusantaraan. Karena DNA dari Indonesia adalah Nusantara, maka Tjokroisme yang sebagaimana jelaskan tadi sangat cocok untuk kita kaji dan amini sebagai aktivis dan juga masyarakat Indonesia.” Lanjut Sekjen Aktivis Peneleh ini menjawab pertanyaan di sesi tanya jawab. 

Pagelaran diskusi tentang HOS Tjokroaminoto tentu harapannya tidak sekadar selesai di forum ini. Aktivis Peneleh Regional Lombok juga perlu untuk implementasi dari tiap nilai-nilai Tjokroisme. Serta kontekstualisasi pemikirannya dalam ranah gerakan Aktivis Peneleh, dalam skala nasional hingga terkhusus di skala regional Lombok Raya.

“Terdekatnya, kita akan racik formula gagasan bersama lewat Kongres II Aktivis Peneleh. Karena di sini akan dibahas bersama Aktivis Peneleh se-Nasional tentang Inisiasi Kiri Nusantara yang berbasis Tjokroisme. Doakan lancar, lancar Kongres, lancar juga gerakan Aktivis Peneleh ke depannya. Saya rasa itu dulu sih, baru setelah Kongres, implementasi aksinya di setiap regional-regional. Seperti regional Lombok, ini potensi gerakan besar. Bismillah.” Ungkap Irawan At-Taufik dalam pemaparannya di sela-sela obrolan pasca acara diskusi. Selaku Pengurus Pusat Aktivis Peneleh yang juga termasuk kepanitiaan perhelatan Kongres, ia menyampaikan urgensi Kongres II Aktivis Peneleh beserta semangat gerakan nasional dan regional Aktivis Peneleh ke depannya. Hal ini juga senara dengan apa yang disampaikan Lalu Alwi, perihal gerakan Aktivis Peneleh Regional Lombok berikutnya. 

“Setelah terlaksananya kegiatan ngulik buku Kita Buka n Bebek yang dirangkaikan juga dengan Upgrading Aktivis Peneleh regional Lombok Raya, kegiatan dilanjutkan hari ini dengan diskusi sejarah sang guru bangsa H.O.S Tjokroaminoto seri ‘Tjokroisme’, ini dimaksud untuk terus menelusuri sejarah-sejarah teladan gerakan keumatan untuk semua hari ini. Dengan terjalinnya dua kegiatan ini khususnya kegiatan diskusi publik ini dimaksudkan untuk mengkonsolidasi gerakan Lombok Raya dalam mempertahankan kesadaran gerakan dan juga menunjukan gelombang kesadaran gerakan kini dan masa depan sektor Lombok Raya.” Ujar Koordinator Aktivis Peneleh Regional Lombok Raya ini. Terlebih ia juga mengungkapkan komitmennya atas nama regional Lombok Raya untuk hadir pada Kongres, secara berjamaah dan menjadi pasukan terbanyak yang hadir dalam Kongres II Aktivis Peneleh, sebagaimana kongres sebelumnya. 

Tinggalkan komentar