AKTIVIS PENELEH REGIONAL LOMBOK SUKSES TUTUP RAMADHAN DENGAN NGAJI KEBANGSAAN

Lombok Raya – Aktivis Peneleh Regional Lombok menggelar diskusi dalam rangka menutup bulan suci Ramadhan. Diskusi ini dilangsungkan melalui platform Instagram dengan fitur Live streaming yang di moderatori oleh 3 Aktivis Regional Lombok dengan tujuan untuk mengembangkan soft skill Aktivis Regional. Berlangsung selama 3 hari dari tanggal 25-27 Maret 2025,  Diskusi ini dilaksanakan dalam 3 sesi di isi langsung oleh 2 anggota Dewan Syuro serta Koordinator Nasional Aktivis Peneleh dengan tema yang berbeda pada tiap sesi.

           Pada sesi pertama, Koordinator Nasional, Ahmad Tsiqqif Asyiqulloh M.Ag., membuka sesi dengan tema “Khazanah al-qur’an dan etika kepemimpinan dalam islam”. Dalam sesi pertama tersebut Ahmad Tsiqqif Asyiqulloh menjelaskan bahwa dalam menyiapkan resolusi umat, diri sendiri lah yang harus diselesaikan resolusinya terlebih dahulu. “ Dari pembahasan soal Khazanah Al-Quran dan Etika Kepemimpinan Islam, Saya merekomendasikan sebuah Resolusi Zelfbestuur-Aksi untuk semua Aktivis Peneleh. Resolusi ini terdiri dari dua substansi. Pertama, Resolusi Diri yang harus dituntaskan. Kedua, Resolusi Umat yang harus diperjuangkan.” menurutnya, sebagai Prawireng Djoerit-nya peradaban indonesia, kedua hal ini harus terimplementasikan dengan baik oleh Aktivis Peneleh. 

          Sesi pertama dengan tema tersebut sukses membuka atmosfer semangat Aktivis Peneleh Regional Lombok dalam berdiskusi membahas Khazanah Al-Qur’an sebagai brainstorming awal menuju sesi kedua yang diisi oleh Anggota Dewan Syuro, Hendra Jaya M.Pd. Membahas beberapa isu politik yang sedang hangat, Hendra mengajak audiens untuk menyemai nilai nilai al qur’an dalam melihat kebijakan politik yang ada dalam kehidupan bermasyarakat. “ Ketika politik dan kebijakan kehilangan ruh spiritual dari Al-Quran, masyarakat akan menghadapi krisis moral dan etika yang mendalam “. Merespon isu politik yang sedang ramai, Hendra juga menjelaskan bahwasanya hal itu merupakan salah satu dampak dari diabaikannya nilai-nilai Al-Qur’an dalam pengambilan kebijakan sosial dan politik, akibatnya pada beberapa kasus hukum menjadi alat kepentingan bagi segelintir penguasa yang seharusnya menjadi pelindung bagi seluruh rakyat dan ketimpangan sosial tidak terelakkan dengan adanya sistem kebijakan yang tumpul ke atas namun tajam kebawah.

Sebagai penutup sesi kedua, Hendra menjelaskan juga bahwa prinsip-prinsip kasih sayang dalam nilai al-qur’an merupakan landasan moral bagi suatu bangsa, sehingga ketika ia menghilang maka itu adalah awal malapetaka bagi suatu bangsa. “ Al-Quran menuntun manusia untuk membangun tatanan sosial yang berkeadilan dan penuh kasih sayang, namun ketika kebijakan hanya dibangun atas dasar kekuatan politik dan ekonomi, maka yang tersisa hanyalah kekacauan dan ketidakadilan. Ketiadaan nilai Al-Quran dalam kebijakan adalah awal dari kehancuran moral suatu bangsa.” tegasnya. 

          Pada 27 maret 2025, Anggota dewan Syura — Muh. Fadhir A.I Lamase— juga turut mengisi kajian daring tersebut, pada kesempatannya Fadhir membawakan tema yang cukup kompleks tentang bagaimana hubungan Al-Qur’an dan juga kesejahteraan suatu bangsa. Statement utama yang Fadhir sampaikan menekankan pada pentingnya kesadaran bagi pemuda untuk memahami realitas bangsa saat ini dengan tetap berpegang pada nilai al-qur’an. “ Dalam rangka mewujudkan kesejahteraan semesta. Maka nilai nilai Al Qur’an harus termanifestasi dalam diri pemuda bangsa. Agar langkah langkah konkrit mewujudkan kesejahteraan rakyat benar benar bisa diwujudkan di masa mendatang” . menurutnya kondisi pemuda saat ini seringkali terlena pada fatamorgana semata tanpa memberi perhatian lebih terhadap situasi bangsa. “ Situasi yang mungkin sudah cukup akut ini menuntut pemuda untuk lebih kritis, peka, dan berani mengambil peran” tegasnya saat memberi closing statement dengan harapan membakar kembali semangat pemuda, khususnya Aktivis Regional Lombok yang mengikuti kajian tersebut. 

          Kajian 3 sesi ini kemudian diharapkan bisa berhasil menggugah kembali kesadaran Aktivis Regional Lombok Khususnya dan seluruh pemuda umumnya untuk lebih mengintegrasikan nilai-nilai Al-qur’an dalam setiap aspek kehidupan. mulai dari etika dalam memimpin, mengambil kebijakan, sampai kepada pegangan terhadap koridor kesejahteraan suatu bangsa. harapannya, dengan adanya sesi refleksi ini, seluruh pemuda indonesia yang turut hadir pada Live Streaming tersebut —maupun aktivis khususnya— dapat kembali merefleksikan bahwasanya sebagai umat muslim, kita mempunyai pegangan Jang Oetama dalam hidup bermasyarakat yang tidak lain dan tidak bukan adalah Al-Qur’an itu sendiri. 

Tinggalkan komentar