“Islam dan nasionalisme tidak harus dipertentangkan. Dalam pemikiran Tjokroaminoto, keduanya justru saling menguatkan demi cita-cita kemerdekaan dan keadilan umat.”
Webinar sesi pertama Kelas Pemikiran HOS Tjokroaminoto yang diselenggarakan oleh Aktivis Peneleh resmi digelar dengan mengangkat tema besar “Islam dan Nasionalisme.” Diskusi ini menjadi ajang refleksi mendalam bagi para peserta untuk menelaah bagaimana dua konsep besar ini—yang sering dianggap bertolak belakang—justru dapat berjalan seiring dan saling menguatkan dalam perjuangan kebangsaan, khususnya dalam perspektif pemikiran HOS Tjokroaminoto.
Sesi dibuka dengan penekanan bahwa disiplin adalah kunci dalam membumikan Islam. Tidak hanya sebagai agama, Islam dalam pandangan HOS Tjokroaminoto adalah sistem nilai yang mesti menjiwai gerakan sosial dan politik bangsa.
Para pembicara mengulas bagaimana konteks sosial-politik kolonial Belanda kala itu—dengan sistem cultuurstelsel (tanam paksa), migrasi paksa, serta politik etis—tidak lain adalah upaya sistematis untuk menciptakan ketergantungan. Dalam kondisi ekonomi yang dikapitalisasi, HOS Tjokroaminoto melihat bahwa pembebasan bangsa tidak bisa hanya bergantung pada perlawanan fisik, tetapi juga harus dilandasi kesadaran ideologis dan spiritual.

Kritik HOS Tjokroaminoto terhadap Sekularisme dan Dilema Nasionalisme
Dalam narasi khasnya yang tajam dan penuh semangat, HOS Tjokroaminoto pernah menulis di surat kabar Fadjar Asia tanggal 24 Mei 1929. Ia mengkritik kondisi Turki di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Atatürk, yang kala itu dianggap telah mengabaikan kekuatan Islam yang dulu menjadi jiwa masyarakat Ottoman. Pak Tjokro menyoroti bagaimana pemerintahan Atatürk memisahkan agama dari negara secara ekstrem—mengganti alfabet Arab ke Latin, mengubah fungsi Hagia Sophia, hingga melarang simbol-simbol kultural seperti fez. Semua ini dinilai sebagai bentuk penyempitan makna nasionalisme menjadi hanya sebatas materialisme dan simbolisme.

Pak Tjokro kemudian menyoroti kondisi di Indonesia yang kala itu tengah membangkitkan semangat nasionalisme, namun dengan kecenderungan untuk menempatkan Islam “nanti saja” setelah kemerdekaan diraih. Baginya, hal ini adalah kekeliruan mendasar. Mengapa menunggu merdeka dulu baru menerapkan nilai-nilai Islam? Bukankah nilai Islam bisa sekaligus menjadi gerakan sosial-politik dan moral dalam membangun bangsa sejak dini?
Ia juga mengkritik fenomena sosial di mana umat Muslim mulai enggan mengucapkan salam dalam pertemuan, bahkan memilih bersikap netral terhadap identitas keislaman dan nasionalismenya. Baginya, sikap setengah-setengah ini adalah akar dari kebingungan identitas dan lemahnya semangat integratif antara iman dan tanah air.
Menurut HOS Tjokroaminoto, patriotisme adalah akar dari nasionalisme. Namun, keduanya tidak boleh menjadi alat permusuhan antar bangsa, apalagi antar sesama anak bangsa. Justru, ia menekankan pentingnya monotheisme-monohumanisme—persatuan dalam Ketuhanan dan persatuan dalam kemanusiaan. Nasionalisme yang Islami dalam pandangannya bukanlah yang eksklusif, tetapi yang membela keadilan, kebersamaan, dan tanggung jawab kolektif atas nasib bangsa.
Dari “Kabur Aja Dulu” ke Gerakan Sadar Pemuda
Sesi tanya jawab memperkaya diskusi dengan menyentuh realitas masa kini. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah soal tren “kabur aja dulu”—ekspresi anak muda yang kecewa terhadap kondisi bangsa. Pembicara mengajak peserta untuk tidak larut dalam sikap apatis. Sebaliknya, perlu ada kesadaran kolektif, keberanian untuk tampil, dan kontribusi melalui gerakan kebaikan dan pembangunan lokal.

Webinar ini juga membedah bagaimana nasionalisme versi Pak Tjokro berbeda dengan yang sekuler. Nasionalisme Pak Tjokro tidak memisahkan nilai-nilai keislaman dari urusan publik, justru memadukannya secara utuh. Ia memperjuangkan konsep Islam yang rahmatan lil alamin sebagai ruh gerakan bangsa.
Penutup: Menjadi Prawireng Djoerit
Menutup sesi, peserta diingatkan bahwa kita sebagai generasi muda adalah pewaris peradaban. Islam sebagai agama rahmat harus menjadi jiwa perjuangan, bukan sekadar simbol atau wacana. Kita diajak menjadi Prawireng Djoerit—pejuang-pejuang nilai dan peradaban yang mampu menjembatani semangat keislaman dan cinta tanah air secara utuh dan konsisten.


Tinggalkan komentar