Oleh: Miftahussurur
Disaat kondisi masyarakat mengalami posisi yang dilematis antara mengutamakan Islam atau Nasionalisme terlebih dahulu, maka atas dasar hal tersebut, Karya ini pada akhirnya terbit dalam koran Fadjar Asia, 24 Mei 1929.
Saat Karya ini terbit, beliau (H.O.S. Tjokroaminoto) mengkritik dua kondisi. Yaitu kondisi di Turki dan kondisi di Indonesia pada saat itu. Dalam kritiknya, HOS Tjokroaminoto mengkritik mengenai kondisi di Turki yang saat itu dipimpin oleh Mustafa Kemal Attaturk. Bahwa kecenderungannya untuk bagaimana mengabaikan kekuatan Islam yang jauh sebelum ia memimpin, Islam sudah menjadi kekuatan masyarakat Ottoman (nama sebelum Turki) dalam menjadi pedoman kehidupan sosial dan politiknya.
Kita sudah sama-sama paham bagaimana ketika Konstantinopel berhasil ditaklukkan oleh Mehmed II (Al-Fatih) pada tahun 1453. Pola pemerintahan yang bertahan sampai lima abad itu tidak ada bentuk dikotomisasi (pertentangan) antara Islam yang sebagai pegangan hidup dan nasionalisme sebagai konsep menjalankan tata kelola berkehidupan.
Akan tetapi ketika Mustafa Kamal Attaturk memimpin Turki, kondisi ini sudah mulai berubah. Sebagaimana yang ditulis dalam koran tersebut yaitu hanya mengindahkan kewadegan atau materialisme.
Hal ini juga dilihat dari cara-caranya yang sangat anti terhadap Islam. Mulai dari pemisahan antara Agama dan Negara (Sekularisme),
Dalam sektor pendidikan, diganti dari awalnya alfabet Arab diganti ke alfabet Latin. Hingga perubahan Hagia Sophia dari masjid ke museum. Serta pelarangan penggunaan fez (topi tradisional Ottoman).
Lalu, kondisi di Indonesia seperti apa?
Melihat fenomena sosial yang mulai berada dalam kebingungan, meskipun menetapkan komitmennya (Islam dan Nasionalisme) masih banyak hal mendasar yang perlu diluruskan.
HOS Tjokroaminoto dalam hal ini menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia kala itu, sedang memulai kebangkitan semangat nasionalismenya. Akan tetapi, atas dasar kondisi tersebut, masyarakat mulai berpikir bahwa perasaan Nasionalisme-lah harus dimunculkan terlebih dahulu. Kemudian setelah merdeka, barulah mengatur pemerintahan menurut aturan Islam.
Pertanyaan mendasarnya, kenapa harus menunggu Merdeka dan kenapa tidak menjalankannya sebagai gerakan Sosial-Politik yang dilakukan sejak dini tanpa harus menunggu merdeka?
Ini bukan perkara mana yang lebih didahulukan antara Islam dan Nasionalisme. Tapi memang sudah seharusnya jadi satu kesatuan (integral). Sedangkan kondisi masyarakat sudah mulai berbeda dengan mengucapkan salam. Sudah mulai enggan dan ketika ada yang mengucapkan salam akan memilih untuk diam. Ironisnya, ada yang memilih untuk netral baik untuk agamanya (Islam) juga nasionalismenya. Melihat kondisi sosial kebangsaan yang demikian, menurut HOS Tjokroaminoto, hal tersebut sangatlah keliru. Terkhusus bagi orang muslim, seakan setengah dan tidak utuh. Ya, perasaan semacam inilah yang pada akhirnya akan melahirkan suatu kondisi. Bahwa pada hal-hal tertentu kita telah pisahkan antara agama dan nasionalisme itu sendiri dan tidak menjadi nilai integratif antara keduanya.
Menurut HOS Tjokroaminoto, patriotisme sumber lahirnya nasionalisme. Bermakna mencintai negeri tumpah-darahnya. Perlu digaris-bawahi juga, nasionalisme dan patriotisme jangan sampai menjadi penyebab benci-membeci dan bermusuh-musuhan antara bangsa yang satu dan bangsa lainnya. Karena yang satu hendak menaklukkan atau merusak hak-hak lainnya. Jangan sampai hal tersebut menjadi penghambat kepada jalan Monotheism-Monohumanism (persatuan kepada yang Esa dan persatuan manusia menjadi satu umat). Patriotisme dan nasionalisme adalah tanda-tanda hidupnya suatu umat. Umat yang hidup adalah umat yang terus dan selalu memikirkan bagaimana solusi terbaik atas bangsanya.
Lalu bagaimana dengan hari ini?
Memaparkan kondisi bangsa belakangan ini, terlalu kompleks untuk kita paparkan. Lihat saja berita yang beredar di segala paltform media sudah ada berita ter-update setiap harinya. Kita ambil contoh saja mengenai fenomena “kabur aja dulu”. sebagian dari kita akan menyebutkan suara ekspresi pemuda atas fenomena bangsa yang menuai kekecewaan publik yang terjadi belakangan ini. Didesak lalu dibuat muak dan yang sebagiannya lagi bodo-amat (apatis).
Apakah cukup dengan ekspresi demikian, lalu setelah badai masalahnya mereda atau sudah selesai akan kembali?
Berbicara problem kebangsaan, dari H.O.S Tjokroaminoto sampai Soekarno, lalu Prabowo, keadaannya sudah hampir sama. Yang membedakannya adalah “mentalitas” orang-orang yang ada disetiap era tersebut, apalagi di era sekarang.
Jika Mehmed II (Al-Fatih) melihat tembok konstantinopel itu tidak akan runtuh karena “mentalnya” yang masih setengah atau tidak utuh. Maka bisa dipastikan Konstantinopel itu ada sampai sekarang. Tapi lihat apa yang terjadi, Konstantinopel pada akhirnya berhasil ditaklukkan. Begitu juga di era HOS Tjokroaminoto, dimana pada saat itu kondisi kebangsaan masih terjajah. Jangankan berpikir mengenai kemerdekaan, yang mereka ketahui adalah bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Sedangkan untuk golongan atas (ningrat) sibuk dengan kemewahannya. Dalam konteks ini apakah HOS Tjokroaminoto memilih diam atau pergi? sangat mudah bagi beliau jika ingin diam atau pergi. Karena dari keluarga ningrat, kekuasaan ada dan bersepakat dengan pihak Belanda. Tapi yang beliau lakukan adalah melakukan perlawanan dengan langkah penyadaran lewat organisasi Sarekat Islam (SI). Bahwa masyarakat mempunyai hak berbicara terkait dengan sosial, ekonomi, dan politik. Membuka gerbang kesadaran akan kemerdekaan (Zelfbestuur) itu sendiri kepada masyarakat tidaklah mudah. Apalagi dalam kondisi terjajah. Kalau tidak karena “mentalitasnya,” beliau dalam melakukan gerakan tersebut, bisa jadi kolonialisme masih berlangsung sampai sekarang. (Untuk kolonialisme model barunya nanti kita diskusi di bab lain). Sehingga atas kesadaran kemerdekaan tersebutlah pada akhirnya diteruskan oleh muridnya yaitu Soekarno.
HOS Tjokroaminoto tidak menikmati kemerdekaan, tidak pada zona nyaman, tapi selalu dalam dinamika pergolakan pemikiran mengenai dasar negara. Selesai proses itu, masih harus menghadapi kondisi Agresi Militer I dan II, bisa kita bayangkan bagaimana kondisi fisik dan mental yang harus dikorbankan pada saat itu.
Di kondisi tahun 1960-an pun kita menghadapi gerakan baru. Situasi nasional dihadapkan dengan Komunisme pada saat itu dan Islam menjadi barisan yang sudah menolak golongan tersebut dan meledaklah Gerakan 30 September 1965.
Lagi-lagi, yang mau kita soroti persoalan “mentalitas” yang hidup di era tersebut, pergolakan pemikiran dan fisiknya sudah pasti. Tapi tidak memilih pergi, tapi mencari solusi terbaik atas bangsanya. Inilah yang dimaksud dari patriotisme dan nasionalisme dari umat yang hidup yang dimaksudkan oleh HOS Tjokroaminoto dalam koran tersebut. Maka dari itu, kalau kita masih banyak ngeluhnya mengenai hal-hal kecil, mungkin kita perlu baca kembali buku sejarah sebagai refleksi gerakan baru untuk hari ini. Apalagi bagi mereka yang sudah sampai ikutan tren “Kabur Aja Dulu”.
Ada tiga rekomendasi gerakan yang perlu kita lakukan hari ini. Yaitu dimulai dari perbaikan mentalitas, perdalam ilmu dan integritas moralitas.
Kenapa harus mentalitas?
Karena model gerakan inilah yang bisa membuat tatanan masyarakat itu baik. Diujikannya mentalitas ini saat banyaknya masalah. Kompleksnya masalah negara saat ini adalah untuk menguji mentalitas kita dalam menemukan cara untuk bisa bertahan dan melawan. “Bertahan” untuk memberi ruang jeda bagi kita untuk melihat lebih jelas kondisi tersebut. Bukan berarti sebaliknya, yaitu tidak mau memahami kondisi tersebut dan berpikir bahwa hal tersebut bukan sesuatu yang perlu kita pahami selama tidak berdampak terhadap dirinya. Pemikiran seperti ini jangan sampai terjadi terhadap pemudanya. Berikutnya, perihal melawan. “Melawan” tidak harus dengan cara yang langsung merubah sistem secara totalitas. Bisa jadi ada bagian yang perlu kita modifikasi untuk penyesuaian perkembangan saat ini. Inilah tantangan, inilah perjuangan, dan kita ada pada posisi perbaikan mentalitas itu sendiri. Ini sebagai respon tidak hanya pada negara. Tapi atas diri kita sendiri. Karena untuk memperbaiki sistem yang ada sekarang dan kemelut masalah lainnya, tidak membutuhkan waktu sebentar. Sekali lagi saya ingatkan, hal mendasar yang bisa kita lakukan adalah membentuk mentalitas yang utuh serta tangguh di setiap kondisi beserta kemelut permasalahannya.
Selanjutnya, perdalam Ilmu.
Bahwa menjadi keharusan bagi kita, terkhusus orang muslim untuk memperdalam ilmunya. Karena ini sudah dicontohkan oleh peradaban-peradaban besar terdahulu. Selain karena mentalitasnya yang teruji, juga karena pendalaman ilmu tersebutlah yang membuat peradaban itu maju. Lihat saja era ke-emasan Islam, semuanya mempunyai kedalaman ilmu sebagai penopang dari mentalitas yang ia punya. Di era saat ini, penerapan mengenai jam pelajaran sangat ditekankan di negara maju. Ini bukan soal perintah, tapi kesadaran setiap individu mengenai makna ilmu itu sendiri. Ulama terdahulu juga sudah mencontohkan. Sebut saja salah satunya, Ibnu Taimiyah. Karena keluasan ilmu yang beliau miliki sampai mempunyai 500 karya tulisan. Begitu juga dengan H.O.S Tjokroaminoto, beliau banyak karya yang dimiliki. Beberapa karyanya menjadi bahan rujukan sampai sekarang. Mulai dari Sosialisme Islam, Tarikh Agama Islam, dan Memeriksai Alam Kebenaran. Lalu Soekarno, kalau sudah pernah baca atau lihat salah satu karyanya, yaitu Dibawah Bendera Revolusi, maka bisa dinilai bagaimana ketebalannya yang sesuai dengan tebalnya harapan-harapan kita.
Bisa dilihat bahwa mentalitas serta kedalam ilmu yang dimiliki itu terintegrasi menjadi satu-kesatuan yang utuh. Lalu, bagaiamana dengan kita sekarang? Kesadaran ini harus kita sadari dengan sesegera mungkin. Mengutip Q.S. Al-Mujadilah ayat 11, menjadi pesan untuk kita semua, untuk diamalkan.
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Penutup, tentang Integritas Moralitas.
Selain mentalitas yang diperbaiki, dan keharusan untuk berilmu, di bab integritas moralitas inilah kuncinya. Banyak orang yang punya mentalitas yang baik dan juga berilmu yang tinggi. Tapi sampai implementasi integritas moralitas, masih banyak yang keliru.
Ini untuk siapapun, terkhusus untuk para pemimpin. Salah satu contohnya dengan banyaknya kasus korupsi yang terjadi. Masalah ini adalah bentuk gagalnya integritas moralitas yang tidak mampu diterapkan oleh para pemimpin dalam setiap sektor. Padahal, berbicara ilmu sudah tentu pada tinggi semua. Namun secara aspek moralitas, sudah keliru. Apalagi sampai kepada tahap agama. Jika perbuatan seperti ini sudah menjadi konsumsi setiap harinya, akhirnya akan membentuk persepsi yang keliru. Pemimpin saja sudah demikian, apalagi masyarakatnya. Meskipun kita tidak berharap demikian, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa hal tersebut bisa diambil secara mentah.
Tapi, jika kita punya komitmen bersama untuk membentuk peradaban yang madani, maka harus memulai dari kebiasaan diri sendiri yang terbaik. Ruang ini sebagai bentuk penyederhanaan yang bisa kita upayakan ditengah arus problem kebangsaan yang kompleks.
Ketiga rekomendasi gerakan ini sebagai senjata dan tameng dalam medan pertempuran kekacauan bangsa yang semakin tidak terkontrol. Kita harus menjadi seorang muslim yang siap bertahan dan melawan. Mencintai negerinya dengan segala persoalannya. Begitulah mentalitas “Prawireng Djoerit” itu terbentuk.
Billahi fi Sabililhaq


Tinggalkan komentar