Manifestasi Kekuatan Prawireng Djoerit

Oleh: Ahmad Tsiqqif Asyiqulloh (Koordinator Nasional Aktivis Peneleh)

Seorang muslim yang menetapkan lahir-batin akan akidah “Lā Ilāha Illah”, sehingga dalam kelakuannya pada tiap saat terhadap kepada siapa pun juga, baginya; tidak ada sesembahan melainkan Allah; seorang muslim yang dalam tiap-tiap shalat menyatakan pengakuan kepada Allah, bahwa sembahnya dan baktinya, hidupnya dan matinya tidak diperuntukkan juga melainkan diperuntukkan bagi Allah; kalau semuanya itu bukan saja menjadi perbuatan tetapi sudah juga menjadi kelakuan dan budi pekerti, maka tak boleh tidak itulah menjadi alat pendidikan yang sebaik-baiknya untuk menjadikan Orang Besar, walaupun miskin dalam perkara harta-benda dunia, untuk menjadikan PAHLAWAN BESAR (PRAWIRENG DJOERIT) dalam pada membela Negeri tumpah darahnya dan umatnya, dan juga membela peri-kemanusiaan yang di dalam tindasan dan kesengsaraan, yang semuanya itu harus dianggap dan ditujukan kepada maksud ibadah (berbakti) kepada Allah yang Maha Kuasa jua adanya.

-HOS Tjokroaminoto dalam Memeriksai Alam Kebenaran

Terbangun dari tidur, deras pikiranku berhamburan, lalu aku rapikan bunga-bunga tidur untuk dirangkai kembali. Kurangkai menjadi satu kesatuan keindahan dalam secarik kertas gagasan. Muncullah gagasan berjudul Prawireng Djoerit. Sebuah romansa-asa tentang asal dari muasal harapan.

Perihal kata tentang Prawireng Djoerit, telah terbersit dalam benak di beberapa hari menjelang Ramadan 1446 H. Secara intuitif cepat, memunculkan gagasan untuk menyelenggarakan kaderisasi non-formal Aktivis Peneleh di bulan Ramadan. Kaderisasi non-formal tapi inovatif. Nah, berdasar ide Prawireng Djoerit dan aura Ramadan, terbentuklah ide untuk eksekusi Pondok Kader Jang Oetama. Suatu kaderisasi non-formal basis disiplin Prawireng Djoerit. Hal ini juga sebagai bentuk integratif antara sistem pesantren, dan gerakan. Kemudian diperkuat dengan sistem harian disiplin yang terus berulang-siklusnya. 

Poster Pondok Kader Jang Oetama pun disebar dan diterima cukup banyak oleh berbagai kalangan. Baik Aktivis Peneleh itu sendiri atau pun non-Aktivis Peneleh. Hingga tiba pada waktu penyelenggaraan, peserta Pondok Kader Jang Oetama pun diikuti oleh 5 kader Aktivis Peneleh dari berbagai Regional. Mereka; M. Tri Ikhsan Lubis (Medan), Miftahussurur (Sumenep), Firda Wulandari (Probolinggo), La Ode Sapiansya (Makassar), dan Ridwan Hitimala (Jombang). “Kenapa kok lima orang saja?” Oh tentu tak apa. Saya tidak berharap banyak secara jumlah peserta. Karena memang untuk lokasi pelaksanaan di Sekretariat Yayasan Peneleh Jang Oetama yang tidak cukup luas untuk menampung banyak orang. Selain itu, saya juga tidak berharap banyak tentang kaderisasi non-formal ini. Awalnya, ini untuk ‘mengisi kekosongan’ agenda aktivis di bulan Ramadan. Tapi, dengan pembentukan kurikulum yang tidak begitu matang, akhirnya kaderisasi ini cukup menjadi bukti sebagai ‘pilot project’ bagaimana model baru kaderisasi Aktivis Peneleh ke depannya.

Di salah satu momentum kegiatan Pondok Kader Jang Oetama, saya menemukan inspirasi lebih dalam tentang Pondok Kader Jang Oetama. Tepat pada sesi baca-tulis tentang HOS Tjokroaminoto. Masing-masing kader membaca satu buku berbeda karya HOS Tjokroaminoto. Kemudian me-refleksikannya serta mendiskusikan hasil bacaannya. Lalu ada di bagian M. Tri Ikhsan Lubis membacakan sebagian tulisan di buku Memeriksai Alam Kebenaran. Disitulah dia menyebut dua kata yang kemudian saya soroti, Prawireng Djoerit dan Tabiat Tertib. Seketika saya baca dan telaah dengan seksama. Ternyata benar, apa yang disampaikan oleh HOS Tjokroaminoto tentang Prawireng Djoerit, salah satu poinnya adalah Tabiat Tertib. Di sinilah kemudian pikiran saya berhamburan untuk meng-konsepsikan ulang serta meng-kontekstualisasikan esensi Prawireng Djoerit. 

(Lebih jelasnya tentang Prawireng Djoerit, sudah saya tuliskan poin-poinnya di esai reflektif saya di post sebelumnya, baca selengkapnya di sini)

Prawireng Djoerit punya martabat-nya tersendiri. Setelah saya dapatkan esensi/substansi tentang Prawireng Djoerit, saya pun dapatkan posisi martabatnya. Dalam linimasa sejarah, setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Namun tentang nilai perjuangan akan selalu beriringan di sepanjang sejarah. Sejarah masa lalu, eksekusi sejarah masa kini, bahkan harapan sejarah masa depan. Sebagaimana Nabi Muhammad dengan Generasi Terbaik-nya, Alexander the Great dengan The Companions dan The Sacred Bands of Thebes-nya, Romawi dengan Legiun-nya, Ottoman dengan Janissari-nya, Majapahit dengan Bhayangkara-nya, begitu pun Aktivis Peneleh dengan Prawireng Djoerit-nya. Dari berbagai pembacaan sejarah tersebut, di sinilah turningpoint dari esensi Prawireng Djoerit perlu dikuatkan untuk gerakan konkritnya bagi pergerakan kedepannya.

Apakah ini membahas tentang ‘pasukan elite’ dari suatu lembaga atau organisasi? Tentu tidak. Ini bukan hanya perihal pasukan elite atau khusus. Tapi menekankan esensi dari pasukan siap memimpin, siap dipimpin, dan siap disiplin. Prawireng Djoerit justru lebih jelas sesuai nilai dari gagasan HOS Tjokroaminoto harus tercerminkan gerakannya hari ini. Sejatinya, setiap Aktivis Peneleh adalah Prawireng Djoerit. Itulah harapan. Mengingat harapan tersebut tentu harus dimulai dari ‘beberapa’ yang kemudian berkembang menjadi ‘semua.’ Aamiin

30 Mei 2025, suatu momentum bersejarah dengan adanya pelantikan sekaligus deklarasi kabinet pengurus pusat Aktivis Peneleh masa aksi 2025-2027 dengan nama kabinet Prawireng Djoerit. (Cek lengkapnya di sini.) Pastinya disesuaikan dengan harapan yang saya maksud sebelumnya. Para pengurus pusat ini harus ter-manifestasikan mentalitas atau kekuatan sebagai Prawireng Djoerit. Begitupun mereka yang telah menjalani kaderisasi disiplin Pondok Kader Jang Oetama di bulan Ramadan. Mereka disebutnya korps khusus Prawireng Djoerit. Mereka punya kekuatan khusus yang harapannya turut membantu eksekusi program-program Aktivis Peneleh ke depannya. Mereka juga diharapkan mampu mekalukkan ‘ego’ dirinya sendiri agar stabil secara emosional dan intelektual begitu pun spiritualnya. Prawireng Djoerit bersenjatakan Trisula Raja Tanpa Mahkota yang Semurni-murni Tauhid, Setinggi-tinggi Ilmu, dan Sepintar-pintar Siasah.

Ada catatan penting yang perlu dirawat sebagai Prawireng Djoerit. Mentalitas Prawireng Djoerit harus dibentuk dari spiritualitasnya yang kokoh terlebih dahulu. Terlepas intelektual dan emosionalnya stabil, spiritual menjadi peranan penting untuk mendasarinya. Hal ini sebagaimana yang disampaikan HOS Tjokroaminoto tentang Prawireng Djoerit harus menjalani dan mendalami Wajib ‘Amali dan Harga-Kepentingan (Quran, Sholat, Dzikir, Agama). Kemudian membentuk karakter atau tabiat tertib (disiplin). Gagasan tersebut sangat fundamental dan menjadi kunci dari suatu organisasi pun pergerakannya. Contoh saja, Nabi Muhammad dengan Generasi Terbaik-nya juga dibentuk dari akhlaknya terlebih dahulu. Janissari dalam kaderisasinya juga dibentuk pengetahuan ke-agama-annya terlebih dahulu sambil lalu bertani selaras alam. Bahkan Gadjah Mada dengan Bahayangkara-nya diperkuat spiritualnya yang menjadikan setiap Bhayangkara yang jumlahnya sedikit itu punya Ilmu Kanuragan di masing-masing orangnya. Hal ini cukup menjadi bukti bahwa setiap Prawireng Djoerit (Pahlawan Besar) harus dibentuk mentalitasnya dari sisi spiritual, kemudian intelektual dan emosionalnya akan sangat kokoh. Bagaimana membentuk spiritualnya? Bisa dibaca kembali Tabiat Tertib dari Wajib ‘Amali di tautan sebelumnya.

Gerak Prawireng Djoerit Hari Ini

Kontekstualisasi Prawireng Djoerit hari ini terbilang cukup berat. Berat tersebut dikarenakan cukup bias membedakan antara mana lawan yang harus ditaklukkan oleh Prawireng Djoerit. Kalau para Prawireng Djoerit terdahulu tentu paham bagaimana ia sebagai pasukan, ia sebagai Pahlawan Besar untuk melawan kolonialisme. Wujud musuhnya jelas, siapa lawannya pun terlihat jelas. Tapi hari ini bagaimana? Seakan dunia beserta alurnya begitu tenang untuk dijalani. Seakan yang terlihat sebagai kawan adalah lawan, pun sebaliknya. Sistem sosial juga seakan terlihat baik-baik saja didikte algoritma buat manusia. Nah, kenyamanan dunia tersebut yang justru menjadi tugas para Prawireng Djoerit untuk menaklukkannya. 

“Kemarin aku pandai, aku ingin merubah dunia. Namun, hari ini aku bijak, aku merubah diriku sendiri.” -Jalaluddin Rumi 

Perlu diperjelas bahwa seorang Prawireng Djoerit adalah yang selesai dengan dirinya. Kalau berdasar Konsep Diri yang selalu disampaikan di forum DIKSARNAS, maka Prawireng Djoerit harus selalu selesai menertibkan dirinya. Dia tidak lagi meremehkan potensi dirinya. Dia tidak lagi suka mengeluh akan permasalahan duniawi. Dia tidak lagi egois. Dia yang berhasil menaklukkan dirinya, dia pemenangnya. 

Lebih jelasnya juga, Prawireng Djoerit hari ini berhasil menyelesaikan Resolusi Diri yang Harus Dituntaskan kemudian menyelesaikan Resolusi Umat yang Harus Diperjuangkan. Lebih jelasnya di sini.

Sederhananya, di era penuh absurditas ini, Prawireng Djoerit cukup ber-Tabiat Tertib dalam Wajib ‘Amali, itu sudah jadi modal besar. Dampak progresifitasnya pasti akan terlihat dari bagaimana ia memahami dirinya, dari bagaimana ia menolong umat. Dampak berkelanjutannya tentu akan selalu membersamai zaman. Tiada kehabisan kekuatan selain kekuatan Ilahiyah, tiada kekosongan gagasan selain bertambahnya ilmu, serta tiada henti bergerak selain dipenuhi siasah untuk terus maju. Mentalitas sebagai ‘Pahlawan Besar’ atau Prawireng Djoerit seperti inilah yang harus terus lestari di setiap jiwa para Aktivis Peneleh.

Prawireng Djoerit Aktivis Peneleh

Sebagai pemimpin, khususnya memimpin laju bahtera Aktivis Peneleh, maka harus dikonkritkan dalam berbagai kegiatan progresif ke depannya. Kesadaran Zelfbestuur-Aksi harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Setidaknya ada beberapa hal kemampuan yang harus dimaksimalkan: 

  1. Daya Literasi yang Tinggi

Sebagaimana HOS Tjokroaminoto mendidik murid-muridnya untuk berwawasan luas yaitu dengan meningkatkan daya literasi yang tinggi. Bahan bacaan selalu menjadi bahan bakar pikiran mereka. Apalagi esensi Iqra’ sudah tegas sejak awal turunnya Al-Quran. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa dengan daya literasi yang tinggi tentunya akan merawat kesadaran dan kedewasaan berpikir. Sebagaimana makna Setinggi-tinggi Ilmu tercermin dalam kemampuan ini. 

Apakah hanya selesai di fase baca-baca saja? Tentu tidak. Bukan seberapa banyak bacanya, tapi seberapa memahami apa yang ia baca. Itulah yang disebut literasi. Memahami suatu bahan bacaan, entah Al-Quran, buku-buku, kitab, artikel, dll, perlu juga dipahami secara mendalam. Termasuk dalam memahami suatu fenomena yang terjadi, perlu bijak untuk membaca. Tidak reaktif tapi tegas atas prinsipnya. Perlu ditelaah mendalam hingga mampu untuk mengambil hikmah atau pun faedah dari apa yang ia baca. Kemudian tugas selanjutnya mampu untuk kontekstualisasi hikmah untuk diimplementasikan di kehidupaan saat ini. Inilah yang disebut daya literasi yang tinggi. 

  1. Daya Karya yang Masif-Kreatif

Sebagaimana HOS Tjokroaminoto dalam kutipan masyhurnya, “Jikalau engkau ingin menjadi pemimpin besar, maka berbicaralah seperti orator dan menulislah seperti wartawan.” Ada hal yang penting untuk dikuasai yaitu esensi menulis. Menulis menjadi salah satu dari wujud berkarya. Belum tentu apa yang dibicarakan bisa menjadi tulisan. Tapi apa yang dituliskan menjadi bukti keseriusan dari apa yang dibicarakan. Oleh karenanya, seorang Prawireng Djoerit harus bisa menuliskan segala gagasannya. Menulis juga menjadi penunjang dalam daya literasi yang tinggi. 

Karya tentu bukan hanya perihal menulis. Berkarya bisa dalam hal lain. Berkarya juga bisa diwujudkan dalam kaderisasi atau pun memunculkan inisiatif-inovatif dalam program progresif lainnya. Karena substansi dari daya karya yang masif-kreatif adalah perwujudan dari apa yang sudah di-refleksikan dari segala bahan yang ia baca entah dari bahan bacaan atau pun dari berbagai fenomena.

  1. Daya Kepemimpinan yang Bijaksana

Pastinya, Prawireng Djoerit (Pahlawan Besar) haruslah siap memimpin. Kepemimpinan yang ideal adalah kepemimpinan yang bijaksana. Terlepas dari berbagai pro-kontra kebijakan atas kepemimpinan, bijaksana menjadi acuannya. Keputusan belum tentu bijak. Tapi kebijakan dipastikan bijaksana. Kebijaksanaan yakni ketika hadir sebagai solusi atas segala permasalahan. Pihak manapun yang ia pimpin merasakan manfaatnya. 

Kebijaksanaan tentu akan hadir ketika ia siap menghadapi apapun yang terjadi. Kebijaksaan lahir dari berbagai badai yang telah ia lalui. Sudah menjadi hal biasa seorang pemimpin dihadapkan pada masalah anggota yang tidak selaras dengan visinya. Tapi disitulah seni kepemimpinannya, selalu evaluasi dan selalu menghadapi badai dengan kebijakan-kebijakan progresifnya. Justru menjadi kekalahan apabila seorang pemimpin memilih menyerah tanpa solusi perubahan.

Satu hal lagi terkait kepemimpinan yang bijaksana sebagai Prawireng Djoerit. Yaitu tentang ‘meng-kader’ atau membimbing kader-kadernya untuk menjadi lebih progresif. Jangan sampai seorang pemimpin hanya mengutamakan kepentingan dirinya sendiri. Anggota-anggota atau para kader bahkan umat harus dididik untuk di-muliakan potensinya. Karena pemimpin yang hebat, membentuk kader yang kuat.

  1. Daya Siasah yang Efektif

Seorang Prawireng Djoerit pastinya harus selalu memiliki strategi atau siasah. Siasah boleh saja disebutnya politik atau pun strategi. Karena sebagaimana makna dari Sepintar-pintar Siasah yaitu harus pintar untuk meracik strategi. Strategi bisa saja terkait strategi produktifitas diri maupun strategi untuk mengurus Aktivis Peneleh. Karena akan sangat fatal apabila seorang Prawireng Djoerit (bahkan) tidak mampu untuk mengurus dirinya sendiri. Mampu mengurus diri sendiri, mampu mengurus umat. Siasah punya peranan penting dalam menyeleraskannya di setiap jalan kehidupan. Apabila ada ketidak-selarasan perihal kesibukan, ini justru masalah logika. Karena bukan perihal kesibukan yang menjadi alasan. Tapi perihal dia mau atau tidak. Terkait kesibukan, semuanya bisa terurai dan bijak untuk di-tertibkan antara siasah diri dan siasah sosial.

Siasah Prawireng Djoerit tentu bukanlah sembarang siasah. Siasah Menembah Gusti menjadi acuannya. Sebagaimana QS. Ali Imran:54, “Mereka merencakan, dan Allah (juga) merencanakan. Sungguh, Allah sebaik-baiknya pembuat rencana.” Ayat ini sangat tegas untuk penguat daya siasah Prawireng Djoerit dalam ber-siasah. Bahwasanya Siasah Menembah Gusti, merencanakan strategi bersama Allah akan sangat baik hasilnya.  

  1. Daya Religiositas yang Mulia

Semurni-murni Tauhid. Inilah pondasi dasarnya. Daya spiritualitas yang mulia tercermin dari bagaimana kemurnian tauhidnya. Memang tidak semudah itu dalam memaknai tentang tauhid. Tapi, kita pun harus mendekatinya. Kita ibarat kegelapan yang butuh cahaya agar terang. Tauhid menjadi cahayanya, tauhid yang menyinarinya. Saya pun belum mampu menjelaskan dengan konkrit perihal tauhid. Namun kita harus terus belajar untuk mencapai Semurni-murni Tauhid tersebut. Walau pun sama-sama memiliki dosa yang entah seberapa besar ukuran gunung, tapi hak untuk kembali dan mendekat pada cahaya-Nya adalah sama. Sama-sama berharap ampunan dan pertolongan-Nya. 

Semurni-murni Tauhid merupakan wujud dari daya spiritualitas yang mulia. Prawireng Djoerit melatih daya tersebut, sederhananya bisa dilakukan dengan mendisiplinkan Wajib ‘Amali dan Harga/Kepentingan Quran, Sholat, Dzikir, Agama. Disiplin atau tertib dalam konsistensi menjaga Wajib ‘Amali akan menguatkan diri seorang Prawireng Djoerit dari sisi terdalam. Jiwa serta hatinya akan selalu terpaut pada kekuatan Ilahiyah. Karena sudah pasti, La Hawla walaa Quwwata Illa Billah, tiada kuasa/kekuatan selain kuasa/kekuatan Allah. Lantas, apa yang menjadi beratnya dalam menjalani kehidupan sebagai Prawireng Djoerit kalau ia ditolong penuh oleh Allah? Sebagaimana QS. Ali Imran:160, “Jika Allah menolongmu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu.”  Bukan kah sudah jelas, bukan? Semoga menjadi hikmah untuk kita semua. Laa Ilaha Illa Allah, tiada tuhan selain Allah.

Akhirnya, sebelum berperang, kiranya memang harus kita perkuat pasukan terlebih dahulu. Apakah Sudah waktunya berperang? Kiranya kita harus menyerang dengan strategi, bukan asal serang. Kirang kita kalah dan lamban? evaluasi dan kekuatan Allah yang harus kita raih. Prawireng Djoerit tentu bukan sekadar ‘sebutan belaka’. Prawireng Djoerit juga merupakan harapan kita semua. HOS Tjokroaminoto telah menyampaikannya pada tahun 1921. Kita pun hari ini dan seterusnya harus melestarikan harapannya. Besar harapan pula yang berdampak pada masa depan Aktivis Peneleh, masa depan Indonesia. Zelfbestuur-Aksi!

Billahi fi Sabilil Haq

Laa Hawla Walaa Quwwata Illa Billah  

Tinggalkan komentar