Kesadaran Zelfbestuur-Aksi!

(Sebuah refleksi sekaligus resolusi 109 tahun Zelfbestuur)

Hari ini, kita hidup di negeri yang telah lama merdeka. Tapi diam-diam, kita menyaksikan:

Banyak orang merasa bebas, padahal pikirannya dikendalikan oleh arus informasi yang tak mereka kuasai. Merasa menguasai informasi, tapi entah bingung mau berbuat apa.

Banyak anak muda merasa merdeka, tapi langkahnya diarahkan oleh algoritma. Ikut tren sana-sini, tanpa sadar dibuai algoritma. Tanpa mau berkarya lewat algoritma.

Kita punya negara, tapi kadang kehilangan arah sebagai bangsa. Tidak bangga dengan DNA Nusantara, tapi maunya budaya Korea, Eropa, Amerika, bahkan entah berantah budaya yang mana.

Kita punya kebebasan, tapi kehilangan keberanian untuk berpikir sendiri. Selalu berani asumsi tanpa verifikasi. Selalu bersuara tanpa rasa. Selalu ingin bebas tapi kelewat batas.

Kita punya sumber daya, kita punya kaya-raya, tapi dimana kata sejahtera. Seakan masih saja dirundung nestapa

Inilah problem besar kita:

Kita telah merdeka secara politik, tapi belum tentu merdeka secara pikiran.

Kita telah merdeka dari penjajahan, tapi masih saja terjajah oleh bangsa sendiri yang tidak tau diri.

Dimana dan kemana arah Zelfbestuur yang dicita-citakan?

Mari kita mundur sejenak ke tahun 1916. Saat itulah sang Raja Tanpa Mahkota menggaungkan secara tegas kata “Zelfbestuur” di hadapan harapan-harapan yang menyala. Dengan suara lantangnya, dengan cita-cita besarnya, Deklrasi Zelfbestuur mulai menggema—sebuah gagasan yang sangat berani dari tokoh bumiputera demi melawan penjajah. 

Zelfbestuur: sering disebutnya juga sebagai Pemerintahan Sendiri, merdeka, mandiri, berdikari, bahkan berdiri di atas kaki sendiri.

Bagi mereka, Zelfbestuur bukan sekadar jabatan atau kursi kekuasaan.

Ia adalah bentuk perlawanan halus terhadap kolonialisme.

Ia adalah mimpi tentang bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri—bukan hanya secara fisik, tapi juga secara akal, batin, dan tindakan.

Kini, lebih dari satu abad berlalu.

Apakah kita masih mewarisi semangat itu?

Ataukah kita diam-diam menjadi koloni baru—dari mentalitas konsumtif, budaya instan, dan ketergantungan pada sistem yang tak kita kuasai?

Kita sedang mengalami penjajahan model baru:

Bukan dengan senjata, tapi dengan ketidaksadaran.

Bukan lewat perbudakan fisik, tapi lewat kehilangan arah.

Benar atau tidak?

Oleh karenanya, mari kita sadari kembali dan bentuk Kesadaran Zelfbestuur-Aksi!

Bagi Aktivis Peneleh, Kesadaran Zelfbestuur-Aksi telah tertulis dalam Reglemen Peneleh Jang Oetama.

-Kesadaran menegakkan keadilan atas kedzaliman, itulah Zelfbestuur.

-Kesadaran berkerjasama upayakan kesejahteraan, itulah Zelfbestuur.

-Kesadaran dalam segala upaya dengan penuh keikhlasan, persaudaraan, kederamawanan, itu Zelfbestuur.

Ingat, Zelfbestuur selalu bersandingkan dengan Aksi. Kita mengharapkan Zelfbestuur, maka harus beraksi. Masih ingat di salah satu kutipan HOS Tjokroaminoto dalam pidatonya, “…Kita tidak pernah mimpi datangnya Ratu Adil atau kejadian yang bukan-bukan tidak pernah terjadi…” Bahwasanya Zelfbestuur itu bukan utopia belaka. Bukan mistika yang tiba-tiba terjadi. Melainkan asa yang penuh usaha. Sebagaimana QS. Ar-Ra’d : 11, “tidaklah Allah merubah nasib suatu kaum melainkan mereka merubah keadaan mereka sendiri.” Inilah ayat Zelfbestuur-Aksi!

Selain itu, refleksi Zelfbestuur-Aksi juga perlu dikonkretkan dengan Resolusi Zelfbestuur-Aksi;

1. Resolusi Diri yang Harus Dituntaskan, bahwasnya Zelfbestuur diri yang meliputi Zelfbestuur kesadara akal, batin, dan tindakan kita haruslah benar-benar berdikari tanpa intervensi tanpa terintimidasi. Bukan haus validasi, bukan dituntut materi, bukan membebek sana-sini. Itulah diri yang suci.

2. Resolusi Umat yang harus Diperjuangkan, bahwasanya umat yang Zelfbestuur adalah umat yang merdeka atas masyarakatnya. Bukan sejahtera secara ekonomi belaka yang menjadi cita-cita. Tapi sejahtera secara keseluruhan, pendidikannya, budayanya, ekonominya, politiknya, pertaniannya, dan sebagainya.

Ingat, resolusi diri yang tuntas, akan melahirkan diri-diri atau umat yang Zelfbestuur. Sehingga terbitlah pemerintahan sendiri, berdikari, mandiri, yang dicita-citakan sejak 109 tahun yang lalu.

Mari kita relfkesikan Zelfbestuur hari ini. Kita harus memahami kembali bagaimana HOS Tjokroaminoto dengan tegas lantang dalam pidatonya.

Refleksi dan resolusi 109 tahun Zelfbestuur adalah panggilan untuk kembali. Kembali berani untuk mandiri, berdikari, bahkan sejahtera dengan pemerintahan sendiri yang suci.

Zelfbestuur atas pikiran kita, Zelfbestuur atas batin kita, Zelfbestuur atas tindakan kita. Sehingga kita tidak kehilangan arah sebagai warga negara Indonesia.

Kita harus menghidupkan kembali semangat para guru bangsa — yang tak hanya menuntut kemerdekaan dari penjajah, tapi membangun bangsa dengan pemikiran dan karakter Nusantara.

Kita butuh lebih banyak pemimpin yang tak menunggu jabatan, tapi bergerak dari kesadaran.

Kita butuh generasi yang tidak hanya bisa memakai teknologi, tapi menguasai arah peradaban.

Inilah saatnya Zelfbestuur dilahirkan kembali — bukan hanya di ruang-ruang Volksraad, tapi di ruang hati dan pikiran kita.

Karena bangsa yang sejati, adalah bangsa yang berani memerintah atas karakternya sendiri.

Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah, Billahi fi Sabilil Haq, Isy kariman awmut syahida, Peneleh Zelfbestuur-Aksi!


Narasi ini ditulis ditulis oleh Koordinator Nasional Aktivis Peneleh, Ahmad Tsiqqif ‘Asyiqulloh.

Tinggalkan komentar