Oleh: Firdaus Ahmad Faqih (Penata Aktivis Peneleh Regional Sumenep)
Kita tentu tidak asing lagi dengan peribahasa menjadi budak di tanah sendiri. Ya, itu terjadi di negara kita saat ini, dan mirisnya hanya segelintir orang yang sadar dan peduli, rata-rata sibuk dengan mencari kenyamanan diri sendiri dan kelompoknya. Layaknya ayam yang dirawat hanya untuk dipotong lalu jadi santapan lezat bagi pemiliknya. Dan bagi yang yang sadar juga memiliki dilema “bisakah kita memperbaiki dan jika bisa dimulai dari mana?”.
Kata kunci yang bisa kita amini bersama adalah negara sudah kehilangan jati dirinya. Ini dimulai dari sejak negara kita masih menjadi negara terjajah dimana pada saat itu belanda memberikan 3 kekacauan (chaos) besar terhadap negara kita yaitu politik tanam paksa 1830, dilanjut politik asosiasi 1870, lalu puncaknya politik etis 1901 sampai sekarang.
Ketiga politik tadi, memiliki maksud terselubung yang itu mengikis dari hal yang paling mendasar untuk menjadikan indonesia ladang basah bagi mereka. Kita bisa berkaca pada Jepang yang hancur oleh bom atom namun sekarang menjadi salah satu negara maju. Serta Palestina yang dari dulu dijajah sampai sekarang pun masih belum bisa ditaklukkan sepenuhnya oleh Israel meski negaranya sudah rata dengan tanah. Dari kedua negara ini kita bisa menarik satu kesamaan yaitu yang hancur hanya negaranya, bukan sumber daya manusianya.
Mari kita kembali pada 3 kekacauan tadi. Pertama, terkait politik tanam paksa. Yang mana pada saat itu eksploitasi besar-besaran terjadi dengan alasan untuk mengisi kembali kas belanda yang sudah terkuras akibar perang yang berakibat pembentukan mental pasrah pada masyarakat Indonesia. Dilanjut dengan politik asosiasi, dimana belanda yang ingin menjalin ikatan yang kuat dengan negara jajahannya melalui budaya khususnya lewat jalur pendidikan. Ini ibarat angin segar di musim semi bagi masyarakat pada saat itu. Padahal itu upaya belanda ingin mengembangkan budaya baru di Indonesia yang lebih tepatnya budaya barat. Akibatnya budaya Nusantara sedikit demi sedikit bergeser tanpa disadari karena transisi kondisi yang awalnya keras tiba-tiba tampak damai.
Setelah dirasa sudah mulai bergeser budayanya, maka diganti lagi politik etis. Isi kebijakannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pribumi dengan 3 pilar utamanya yaitu:
1.Irigasi
Peningkatan dan perbaikan sistem pengairan serta pembangunan bendungan untuk mendukung kegiatan pertanian pribumi.
2.Imigrasi
Megurangi kepadatan penduduk di Jawa dengan memindahkan sebagian penduduk ke daerah lain di Hindia Belanda.
3.Edukasi
Perluasan akses pendidikan tapi terbatas pada masyarakat kalangan menengah dan bawah. Jadi yang bisa mengakses pendidikan hanya kalangan atas.
Jika kita sadari bersama, tiga pilar ini mengarah pada satu tujuan yaitu ekonomi kapitalisme. Dimana pemegang kekuasaan tertinggi adalah pemodal. Kita bisa melihat dari pilar irigasi, dimana pemanfaatan lahan yang menjadi salah satu sumber ekonomi. Lalu kemudian perpindahan penduduk dengan alasan terlalu padat, yang sebenarnya itu untuk me-filter kekuatan juga informasi agar lebih mudah untuk menguasai. Dilanjut dengan pendidikan yang hanya kalangan atas. Agar masyarakat bawah tidak teredukasi dengan baik dan minim pengetahuan. Karena nanti akan dijadikan pekerja di lahan mereka sendiri.
Dari 3 chaos itulah yang membuat negara kita kehilangan jati dirinya dan dampaknya masih terasa sampai sekarang. Jika kita lihat kondisi pemuda sekarang, kegelisahan mereka hanya untuk bagaimana caranya hidup nyaman dan mudah. Untuk kalangan aktivis, yang katanya representasi dari rakyat itu sendiri ada beberapa yang memiliki penyakit burn-out. Penyakit ini dikarenakan kegagalan dalam pencarian makna. Yang pada akhirnya para aktivis yang tidak terselamatkan itu memiliki watak pragmatis dan orientasi materialistis.
Melihat realitas yang seperti ini penulis mencoba untuk mempelajari jejak perjuangan sang guru bangsa, HOS. Tjokroaminoto. Beliau dengan SI-nya melakukan aksi-aksi konkret untuk melakukan perlawanan dengan gagasannya. Salah satu buku yang beliau tulis yaitu Program Asas dan Program Tandhim (perjuangan) membuka pandangan penulis tentang bagaimana HOS. Tjokroaminoto ingin membumikan Islam di bumi pertiwi ini agar kita mampu menciptakan negara yang Zelfbestuur.
Tentang Program Asas
- Persatuan islam
Ini merujuk pada perpecahan yang terjadi maka perlu adanya satu wadah untuk melakukan konsolidasi dan menjadi satu kesatuan. Yang menjadi landasannya adalah (Qs. Al imran, ayat; 103).
- Kemerdekaan ummat
Kemerdekaan disini tidak hanya de-jure saja. Melainkan kemerdekaan sejati, yaitu kemaslahatan ummat. Dan untuk mencapai itu ada 4 poin pondasi yang penulis garis bawahi di buku beliau:
- Qs. Alfath ayat ke-23: yaitu soal keyakinan atas janji Allah yang akan membela dalam usaha-usaha dalam memperjuangkan melawan musuh-musuhnya.
- Qs. Al Imran ayat ke-137: yaitu mempelajari riwayat atau sejarah terdahulu.
- Qs. Al Jatsiyah ayat ke-28: tiap ummat akan diperlakukan sesuai perbuatan masing-masing, dengan demikian kita selalu behati-hati dalam setiap langkah gerak kita sesuai aturan Islam.
- Qs. Ar-Ra’ad ayat ke-11: merubah keadaan sendiri dan keadaan lingkungan seluruh ummat Islam (meninggikan Islam di atas segala apa-apa yang dapat kita pikirkan).
- Sifat Negara dan Pemerintahan
Setiap kekuasaan pemerintahan haruslah berlandaskan pada kemauan rakyat (musyawarah mufakat)
Program Tandhim (perjuangan)
- Semurni murninya Tauhid.
- Setinggi-tinggi Ilmu.
- Sepintar-pintar Siasah.
Maka dengan adanya suatu pandangan yang sudah diberikan oleh guru bangsa kita, penulis juga ingin membuat suatu Program Asas dan Program Tandhim. Tentunya itu sesuai dengan kemampuan penulis dan kawan-kawan seperjuangan yang secara kuantitas sedikit (Creative Minority).
Interpretasi Program Asas
- Propaganda akar rumput
Jika kita ingin meneruskan perjuangan para pejuang-pejuang terdahulu maka perlu adanya perawatan dan penjagaan akar rumput. Karena yang akan melanjutkan generasi selanjutnya adalah kita semua, pemudanya. Jika pemudanya sendiri sudah kehilangan jangkar nilai yaitu; religiusitas, nasiaonalitas, dan kebudayaan, maka kita bisa melihat indonesia ke depannya seperti apa. Maka perlunya aksi-aksi konkret sebagai Program Perjuangan;
Interpretasi Program tandhim
- Kecerdasan hikmah dan ketahanan jiwa
Kecerdasan hikmah disini soal memami makna di setiap realitas yang terjadi tidak hanya menggunakan kesadaran rasional, empiris, dan emosional. Tapi lebih dari itu menggunakan kesadaran utuh. Yaitu; dunia, barzah, qiyam, juga akhirat. Serta ketahanan juwa yang mengacu pada keimanan setiap individu kepada sang pencipta. Agar di setiap langkah kita tidak goyah ketika ada godaan yang sifatnya ke-duniawian.
- Konsolidasi keummatan
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa untuk melakukan suatu aksi-aksi konkret perlu adanya wadah atau perkumpulan atau organisasi yang orientasi gerakannya murni untuk ummat.
- Berwawasan nusantara
Ini bisa menjadi jawaban atas pergeseran budaya nusantara menjadi budaya barat, perlu adanya diskusi yang itu penggalian kembali pengetahuan kita soal budaya Nusantara. Karena salah satu penyebab kehancuran suatu negara adalah kehilangan budayanya.
Sekian, ini yang bisa saya refleksikan terkait pendalaman saya tentang Tafsir Program Asas dan Program Tandhim Syarikat Islam. Kita sebagai manusia Nusantara, kita sebagai Aktivis Peneleh, tentunya harus selalu kontekstual dan aktual dalam menjalankan aksi-aksi konkret demi mencapai Indonesia yang Zelfbestuur.
Narasi ini di-abadikan dari kajian Suluh Tjokro yang diselenggarakan oleh Aktivis Peneleh Regional Sumenep pada 14 Juni 2025 dengan tema Jang Oetama: Siasah Diri dan Sosial


Tinggalkan komentar