Cinta Dengan Segala Bentuknya; Sebuah Risalah Perjuangan Kebangsaan

Oleh: Jilan Namira Kusteja (Kepala Kesekretariatan Aktivis Peneleh)

Beruntunglah pada tiap-tiap manusia yang masih merasakan cinta dalam hatinya. Beruntunglah tiap tiap manusia yang masih diberikan kesempatan untuk menyayangi dan merasa disayangi oleh-Nya, atau makhluk ciptaan-Nya.

“Tuhan tak pernah keliru memberikan anugerah cinta pada hamba-Nya”. Satu lirik lagu Rizky Febian yang menggelitik hatiku. Kurasa benar, Tuhan tak pernah keliru memberikan cinta sebagai anugerah untuk hamba-hamba-Nya.

Kadang cinta yang Tuhan titipkan ke hati kita bisa menjadi nikmat, bisa juga menjadi ujian. Apapun bentuknya, cinta tak pernah gagal memberikan pembelajaran bagi yang merasakannya. Dan tentunya, bagi mereka yang cukup bijak untuk mengambil hikmahnya.

Tanpa kita sadari, hidup kita tak pernah jauh dari kisah cinta. Kisah cinta yang macam-macam ujungnya, ada yang bahagia, ada yang juga tak seberuntung itu mendapatkan akhir yang mereka harapkan. Hampir semua punya kemelekatan dengan sosial media dan rasanya kisah cinta selalu jadi hal yang tersebar luas di dunia maya.

Ada laki-laki yang menyesal karena terlambat mengungkapkan rasa. Ada Perempuan yang masih menunggu jodoh impiannya datang, entah kenal lewat mana. Ada pernikahan yang bahagia, keluarga cemara, tapi juga tidak sedikit pernikahan yang berujung perceraian. Serta banyak lagi kisah-kisah keluarga yang seberantakan kapal pecah.

Tidak salah membaca kisah-kisah ini. Tapi bagi mereka yang cukup bijak dan lapang hatinya, mungkin ada satu atau dua hikmah yang bisa diambil.

Penyesalan mengajarkan keikhlasan. Penantian mengajarkan kesabaran. Kelelahan dan ketakutan mengajarkan arti syukur dan keberanian, dan beberapa hal lain tentang kisah cinta hidup orang-orang yang dijadikan pembelajaran bagi diri sendiri untuk masa yang akan datang.

Ah.. kurasa cinta tak hanya sebatas cinta-cintaan. Beruntung pula mereka yang belajar arti kasih sayang dari hal-hal lain. Sebagaimana kasih sayang orang tua pada anaknya, begitupula sebaliknya. Sebagaimana rasa rindu pada hewan berbulu lucu di rumah setelah seharian bekerja. Bahkan, sebagaimana boikot habis-habisan produk Israel, sebagai bentuk kepedulian melihat saudara palestina yang dibombardir habis habisan.

Begitu pula perjuangan para tokoh bangsa sebagai bentuk cinta mereka terhadap agama dan negara. Mudah saja, mari kita lihat tokoh yang selalu Aktivis Peneleh bawa semangat juangnya, yakni sang Guru Bangsa, HOS Tjokroaminoto. HOS Tjokroaminoto mewujudkan rasa cinta beliau dengan bentuk perlawanan pada penindasan. Walaupun lahir dari keluarga yang berada dan menikahi seorang perempuan dari keluarga berada pula, beliau memilih untuk meninggalkan simbol priyayi, pangkat, dan kenyamanannya atas nama perjuangan. Bukan hanya blusukan mendengar keluh kesah wong cilik. Bukan pula adaptif atas perilaku keningratannya. Beliau memilih menjadi bagian dari wong cilik sekaligus melakukan penyadaran atas Nusantara melalui konsep Zelfbestuur, pemerintahan dengan nilai Nasionalisme ber-Ketuhanan.

Tak hanya itu, HOS Tjokroaminoto mewujudkan cinta beliau pada negeri dengan melakukan berbagai gerakan di berbagai lini. Mulai dari Sosial-Ekonomi dengan mendirikan koperasi-koperasi, pertanian, penyadaran komunitas masyarakat lewat kebudayaan, mencetuskan pendidikan dengan konsep Moslem National Onderwijs, dan tentunya semuanya terangkum dalam pergerakan organisasi yang masif-progresif dengan Sarekat Islam-nya.

Semangat dan rasa cinta beliau terhadap kebenaran, menginspirasi banyak orang. Termasuk Aktivis Peneleh dan orang-orang didalamnya. Membawa semangat HOS Tjokroaminoto, Aktivis Peneleh bergerak melanjutkan perjuangan beliau dengan berbagai pergerakan di berbagai lini. Jurnal Oetoesan Hindia, IJRACS, Koran Peneleh, Warung Jang Oetama, Penerbit Peneleh, dll. Ini adalah bentuk-bentuk aksi nyata Aktivis Peneleh sebagai risalah perjuangan cinta kita untuk negeri. Para pendiri Peneleh, seperti Bapak Aji Dedi Mulawarman, Ibu Ari Kamayanti, Ibu Novrida Qudsi mewujudkan cinta mereka pada Islam dan Indonesia lewat tulisan-tulisan mereka seperti Paradigma Nusantara, 2024: Hijrah untuk Negeri, Konspirakuntansi, Gayatri Akuntansi Majapahit, dan banyak lagi lainnya. Mereka juga menginisiasi banyak riset berpihak lewat Peneleh Research Institute. Mereka pula mewujudkan cinta terhadap Nusantara dengan selalu menginspirasi dan membersamai Aktivis Peneleh dalam setiap langkah juangnya.

Sebagai Aktivis Peneleh, seharusnya kita berbangga karena inilah salah satu cara kita mewujudkan cinta kita terhadap Nusantara. Tidak hanya berbagi diksi dan narasi, Aktivis Peneleh mewujudkan cinta lewat berbagai gerakan terutama di ranah kaderisasi. Lihatlah berapa banyak jenjang pendidikan yang sudah dirancang Aktivis Peneleh untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan perjuangan. Baik di Pendidikan Tingkat Dasar Nasional (DIKSARNAS), Pendidikan Menengah Nasional (DIKMENAS), Pendidikan Atas Nasional (DIKTANAS), telah dilakukan berkali-kali. Tentunya kali ini Aktivis Peneleh akan kembali mewujudkan cinta Nusantara dengan penyelenggaraan DIKSARNAS ke-28 di Malang bulan Juli ini.

Tiada cinta yang berpaling. Tiada cinta yang bertepuk sebelah tangan. Cinta sebagai risalah perjuangan akan selalu menunjukkan kepada jalan kebenaran. Tiada kecewa, tiada rapuh, tiada sakit hati, yang ada hanyalah ketulusan untuk terus berjuang. Berjuang demi agama, bangsa, dan negara.

Dari tulisan ini, semoga kita semua sadar bahwa cinta ada banyak bentuknya. Dan yang terpenting, semoga kita termasuk mereka yang beruntung. Mereka yang dititipkan rasa cinta di hatinya. Apapun bentuknya. Sekian.

Tinggalkan komentar