Wijaya Satya; DIKSARNAS XXVIII

Kamis, 27 Juli 2025 Aktivis Peneleh memulai hari pertama pendidikan Dasar Nasional Aktivis Peneleh angkatan Ke-XXVIII. Angkatan kali ini merupakan angkatan Diksarnas pertama yang berada di bawah naungan Rumah Kader Aktivis Peneleh yang telah dilantik pada bulan Juni 2025. Diksarnas angkatan ini mengangkat tema “Nusantara Kaya, Indonesia Raya.” Memfokuskan peserta pada pendalaman tentang pentingnya mengembalikan ruh nilai Nusantara dengan menganalisis realita terkini dengan sudut pandang berbeda ; sudut pandang anti ‘mbebek,’ prinsip Aktivis Peneleh sejak lama.

DIKSARNAS kali ini cukup eksklusif. Karena pada DIKSARNAS kali ini menerapkan sistem penyeleksian yang cukup ketat. Dimulai dari seleksi administrasi, wawancara, hingga seleksi essai dengan minimum 500-1000 kata. Menghasilkan peserta yang bersungguh-sungguh dan berdaya belajar tinggi. Dari total pendaftar yang tercatat, hanya 4,1% yang berhasil masuk dan dinyatakan lulus dalam pengkaderan jenjang pertama Aktivis Peneleh ini. Namun, heterogenitas peserta kali ini cukup besar. Karena mencakup lima wilayah atau regional yang berbeda ; Jawa Barat, Jawa Timur, Lombok, Sumbawa dan Madura. Menciptakan atmosfer perkaderan yang cukup unik. Sebab peserta juga bisa langsung menambah relasi lintas pulau. Tentu saja secara umum, skala nasional.

Berlangsung selama empat hari dan tiga Malam, DIKSARNAS ke– XXVIII ini mengadopsi kurikulum baru yang memiliki output berbeda dengan lulusan DIKSARNAS sebelumnya. Bahkan angkatan kali ini memiliki nama angkatan; Wijaya Satya.

“Kami ngalap berkah dan terinspirasi dari perjuangan Raden Wijaya dengan semangatnya pada Zamannya. Itulah asal muasal kenapa memilih Wijaya. Sedangkan untuk Satya, adalah kami sendiri, pasukan angkatan Ke – XXVIII. Mudah-mudahan kami sama semangatnya dengan beliau, Aamiin.” Ungkap Aoval Marom, salah satu peserta DIKSARNAS angkatan ke–XXVIII.

Secara latar belakang, peserta DIKSARNAS Kali ini juga bisa dibilang cukup heterogen. Dimana peserta kali ini, mempunyai background yang cukup beragam. Sehingga dalam pelaksanaannya, berbagai point of view bermunculan. Mereka, adalah pemuda yang awalnya adalah orang yang demotivasi ketika pertama kali datang. Kebingungan, resah, geram terhadap sistem, dan ingin berubah adalah kesan awal mereka mendaftar. Namun, ketika hari terakhir mereka memiliki semangat dan motivasi belajar yang lebih menyala; terihat dari keinginan mereka untuk langsung menjalankan program keummatan yang sudah mereka sepakati.

Harapannya, angkatan Wijaya Satya ini menjadi angkatan yang tidak hanya mampu menyalakan api semangat angkatannya sendiri. Melainkan berani memposisikan diri sebagai obor yang siap menghangatkan kegelapan, bahkan menyulut kembali api yang sudah padam. Sebab, kalau perubahan tidak terjadi di zaman kita, setidaknya kita adalah bagian dari yang mengusahakan perubahan pada 100 tahun mendatang itu.

Salam, Zelfbestuur-Aksi!

Tinggalkan komentar