Yogyakarta — Dalam rangka memperingati haul HOS Tjokroaminoto, Diskusi Kebangsaan bertema “Refleksi Akhir Tahun, Merajut Masa Depan: Pemuda, Krisis Identitas dan Eksistensi” diselenggarakan sebagai ruang dialektika pemikiran dan perjumpaan gagasan bagi pemuda. Kegiatan ini menjadi upaya membaca kondisi kebangsaan sekaligus meneguhkan kembali arah perjuangan intelektual dan sosial generasi muda.
Diskusi kebangsaan tersebut terlaksana melalui kolaborasi Rumah Siasah Aktivis Peneleh dengan Aktivis Peneleh, serta dihadiri oleh berbagai elemen pemuda, mahasiswa, dan aktivis pergerakan di Yogyakarta.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Ahmad Tsiqqif ’Asyiqulloh selaku Koordinator Nasional Aktivis Peneleh, Muhammad Rafli Ilham selaku Demisioner Koordinator BEM Nusantara DIY, serta Mohamad Jafar, Ketua PC GP Ansor Kota Yogyakarta. Sementara itu, sambutan sekaligus pengantar diskusi disampaikan oleh Moh. Fawais, Koordinator Aktivis Peneleh Regional Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam sambutan pengantarnya, Moh. Fawais menegaskan bahwa sepanjang tahun 2025 bangsa Indonesia dihadapkan pada krisis multidimensi—mulai dari krisis ekonomi dan sosial hingga krisis identitas serta arah kebangsaan. Menurutnya, situasi tersebut tidak boleh disikapi secara pasif. Pemuda dan aktivis justru dituntut hadir sebagai jawaban dan harapan atas berbagai persoalan yang melanda negeri. Karena itu, ia menekankan pentingnya melahirkan ide dan gagasan progresif yang tidak berhenti pada wacana, tetapi menjelma menjadi aksi nyata yang berorientasi pada perubahan dan kebermanfaatan sosial.

Dalam pemaparannya, para narasumber menyoroti kondisi pemuda hari ini yang berada di tengah krisis identitas dan kegamangan eksistensi. Arus pragmatisme dan materialisme, ditambah minimnya keteladanan ideologis, dinilai menjadi faktor utama yang menjauhkan pemuda dari kesadaran berpikir dan keberanian bersikap.

Koordinator Nasional Aktivis Peneleh, Ahmad Tsiqqif ’Asyiqulloh, menegaskan bahwa diskusi kebangsaan bukan sekadar forum wacana, melainkan ruang menempa kesungguhan berpikir dan kesiapan berproses. Ia menekankan bahwa spirit perjuangan HOS Tjokroaminoto harus terus dihidupkan sebagai teladan keberanian ideologis, konsistensi berpikir, dan keteguhan sikap. Menurutnya, untuk menghindari krisis identitas dan eksistensi, pemuda perlu kembali pada jati diri Nusantara melalui gerakan inisiasi Kiri Nusantara yang berlandaskan nilai-nilai Tjokroisme.
Diskusi ini juga menjadi momentum reflektif di penghujung tahun, sekaligus ajakan kepada pemuda agar tidak larut dalam krisis, melainkan menjadikannya sebagai titik tolak membangun masa depan bangsa dengan kesadaran ideologis dan tanggung jawab sosial.
Kegiatan berlangsung dinamis dan kritis, ditandai dengan sesi tanya jawab serta pertukaran gagasan yang hidup. Melalui forum ini, diharapkan lahir pemuda-pemuda yang tidak sekadar lantang dalam slogan, tetapi matang dalam nalar, beretika dalam perjuangan, dan teguh dalam proses.



Tinggalkan komentar