Kemajuan peradaban sebuah negara bangsa menjadi perbincangan tak lekang zaman. Kemajuan sebuah negara bangsa diukur dari seberapa jauh pemudanya mampu berperan untuk menentukan arah bangsa. Pasalnya, fenomena pemuda bangsa Indonesia dewasa ini masih gagap menanggapi realitas kebangsaannya. Pemuda bangsa Indonesia benar-benar telah mencapai titik nadir dalam pergerakannya. Situasi ini terbentuk dari “krisis multidimensional” bangsa yang semakin akut.
Krisis multidimensional itu meliputi aspek nilai (value), pengetahuan (knowledge) hingga tataran aksi (practice). Dimulai dari kehilangan aspek nilai kebangsaan yang seharusnya menjadi “jangkar religiositas dan kebudayaan”. Nilai kebangsaan juga menjadi falsafah yang seharusnya dipegang teguh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kini semua hanya terjadi pada masa lalu dan jaya pada masanya. Semua itu perlahan runtuh bahkan hilang ditelan zaman, yang tersisa hanyalah “falsafah” sebagai slogan semata.
Buktinya, mari refleksikan bersama “masih adakah nilai-nilai kebangsaan terimplementasi di ruang kemasyarakatan kita sekarang ini?”. Dari kebijakan negara masih bercorak developmentalistik, kolonialistik dan neoliberalistik. Begitupun dengan paradigma sains dan riset secara dominan mengikuti skema global. Konsekuensinya, bangsa Indonesia menjadi “kehilangan arah” untuk mewujudkan kemerdekaan sejati bangsanya. Inilah dampak jika sebuah bangsa terpapar “krisis multidimensional”. Gerakan-gerakan Aktivis Peneleh Jang Oetama didesain sebagai upaya dalam menanggapi desakan dari “krisis multidimensional” dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan yang telah mendarah daging sehingga Aktivis Peneleh Jang Oetama berupaya terlibat dalam langkah-langkah konstruktif dalam menciptakan peradaban ideal yang berbasis nilai-nilai budaya dan religiositas bagi masyarakat Indonesia.
Upaya Aktivis Peneleh Jang Oetama diwujudkan melalui gerakan pembinaan kesadaran pemuda bangsa. Perkaderan Aktivis Peneleh Jang Oetama mengambil beberapa jalan: Pendidikan Dasar Aktivis Nasional (DIKSARNAS), Pendidikan Dasar Menengah Nasional (DIKMENAS), Program Relawan Riset Peneleh, Peneleh Youth Volunteer Camp (PYVC), Gerakan Aktivis Peneleh Muda (Tjokro Muda), Sekolah Aktivis Peneleh Regional (SAPR) sebagai sebuah gerakan. Seluruh gerakan Aktivis Peneleh Jang Oetama merujuk pada spirit pemikiran dan perjuangan sang guru bangsa, HOS Tjokroaminoto. Gerakan Aktivis Peneleh Jang Oetama bertujuan pada penyejahteraan, pemberdayaan, serta pelibatan semua pihak melalui pendidikan berbasis agama dan budaya, bahwa pemuda harus punya gagasan konkret yang bersifat konstruktif untuk negeri. NKRI harus dirawat melalui gerakan penyadaran, dimuliakan melalui gerakan keberpihakan, dan dijayakan melalui gerakan-gerakan keumatan dan kebangsaan. Gerakan konkret itu diwujudkan melalui organ-organ yang menjaga idealismenya seperti Peneleh Research Institute, Penerbit Peneleh, dan Waroeng Jang Oetama. Semuanya bermuara pada tujuan akhir, yakni mewujudkan solusi konkrit untuk kejayaan kembali Nusantara.
VISI-MISI AKTIVIS PENELEH JANG OETAMA
Visi Aktivis Peneleh Jang Oetama:
“Menjadi Wadah Kesatuan pembentuk jiwa-jiwa Insan Kamil yang religius-berkebangsaan-berkebudayaan sebagai penggerak untuk pencapaian kemandirian negeri”
Misi Aktivis Peneleh Jang Oetama:
- Menjalankan aksi konkret melalui pengabdian, penelitian, pendidikan dalam bi-dang keagamaan, kebudayaan, kesejahteraan, politik, pangan, energi, lingkungan, kesehatan, sains teknologi produktif.
- Melakukan perkaderan secara berkesinambungan berbasis agama-kebangsaan-kebudayaan.
